11 September 2007

Lintang

Baru aja selesai baca Laskar Pelangi, saya suka dengan semua tokoh yang diceritakan dalam novel ini tapi cerita tentang Lintang yang paling berkesan untuk saya.

Lintang diantara teman-temannya adalah anak yang paling jenius, yang memang pintar karena bakat yang diberikan Tuhan untuk dia, Lintang lahir dikeluarga yang sangat miskin, ayahnya seorang Nelayan. Lintang membantu Ayahnya bekerja sebagai pengumpul kopra. Ayah Lintang tahu untuk keluar dari kemiskinan Lintang harus sekolah…pertama kali datang ke sekolah Lintang salah membawa pensil, pensil yang dia bawa adalah pensil tukang jahit untuk menggambar pola, buku yang dia bawa adalah buku untuk menulis indah…..

Setiap hari Lintang bersekolah menempuh jarak pulang pergi 80 KM!!!!dengan bersepeda tua (warisan kakenya untuk ayah Lintang) yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya dan tidak pernah satu hari pun dia bolos sekolah walaupun hujan deras, banjir bahkan ketika dicegat buaya. Karena hambatan-hambatan dalam perjalanan seringkali Lintang tiba disekolah sudah sangat terlambat.

Ketika Lintang mendapat PR matematika dan dia bertanya pada ayahnya berapa 4x4 itu, ayahnya langsung berlari ke kantor kepala desa untuk bertanya kepada petugas disana, sepanjang jalan pulang ayahnya menghapal jawabannya, ketika tiba di rumah ayahnya berkata…”tentu saja 14 anakku…”Lintang tahu bahwa ayahnya diam-diam bertanya kepada orang lain….dan sejak saat itu Lintang tidak pernah lagi bertanya kepada ayahnya dia tahu bahwa dia harus berusaha sendiri….

Lintang bersama 2 sahabatnya pernah mewakili sekolah mereka mengikuti lomba cerdas cermat dan dimana semua pertanyaan diborong Lintang bahkan kadang sebelum pertanyaan selesai dibacakan. Walaupun paling cerdas namun Lintanng selalu mau membantu teman-temannya yang kesulitan memahami pelajaran yang diberikan, Lintang membuat teman-temannya mengerti dengan caranya sendiri.

Pada beberapa bab terakhir cerita mengenai Lintang sangat mengharukan pertama ketika ayahnya meninggal dan Lintang anak yang sangat cerdas itu harus meninggalkan bangku sekolah karena sebagai anak pertama Lintang harus menggantikan ayahnya bekerja agar 14 orang anggota keluarganya dapat bertahan hidup.

Kedua ketika 12 tahun kemudian ketika semua tokoh dalam novel tersebut diceritakan sudah dewasa, diceritakan pekerjaan apa yang mereka miliki. Lintang telah bekerja sebagai supir truk, ada satu kalimat yang yang dia katakan ketika salah satu sahabatnya mengunjungi Lintang di tempat kerjanya…”setidaknya aku memenuhi keinginan ayahku, aku tidak menjadi nelayan…”

Sang sahabat sangat kecewa karena karunia kecerdasan yang dimiliki Lintang harus berakhir sia-sia hanya karena dia lahir di keluarga yang miskin, seharusnya Lintang bisa menjadi seorang ahli matematika dan fisika seperti cita-citanya. Dan sang sahabat kecewa karena dia juga tidak dapat berbuat apapun.

Cerita Lintang sering kita dengar dalam kehidupan nyata bahwa anak yang cerdas harus membuang cita-cita dan mimpinya hanya karena mencari uang untuk keluarga jauh lebih penting. Tidak bisa disalahkan karena untuk makan saja mereka susah apalagi untuk membayar uang sekolah, uang buku, alat-alat tulis, ongkos untuk berangkat ke sekolah.

Saya hanya bertanya pada diri saya sendiri apa yang sudah saya lakukan untuk “Lintang” lainnya???
Masih belum ada…..

1 comment:

blogari said...

mohon izin mengcopy paste tulisan mengenai lintang laskar pelangi ini.
sebab mungkin ada yang kebetulan punya niat yang sama, ingin berbuat sesuatu untuk lintang lintang yang lain.

TQ.