16 March 2008

Sapta, Anggun..Rest In Peace Ya....

Baru saja saya membaca Andy’s Corner di Website Kick Andy..dua orang adik yang saya kunjung sudah pergi menghadap pencipta. Wajah mereka langsung terbayang, keceriaan mereka, bahasa mereka. Terakhir saya bertemu Sapta sebulan yang lalu ketika saya terakhir kesana…Sapta masih sangat ceria (dalam hati saya berkata anak ini akan baik-baik saja), orangtuanya pun masih ceria bercanda dengan orangtua lain.

Tulisan Bung Andy sangat mengejutkan karena buat saya Sapta seperti tidak menderita sakit apapun apalagi kanker otak. Saya masih terbayang ketika datang kesana terakhir kali Sapta sedang asyik main PS, beberapa dari kakak yang ada di sana bercanda bahwa dia sekarang menjadi selebritis karena muncul di acara Kick Andy. Dia juga jadi bahan bercandaan orangtua lain karena buang angin di kamar temannya lalu kaburJ, waktu itu dia sedang menunggu suster datang untuk minum obat sambil nunggu dia minta jajan nasi kuning di lantai dua yang katanya enak..tapi itu sebulan yang lalu sekarang Sapta sudah pergi. Rest in Peace ya Sapta…

Sebenarnya ada satu anak lagi yang sudah pergi yaitu Anggun, waktu terakhir kesana saya tidak bertemu dengannya, pertama kali ketemu kita sempat main bareng, sempat janji kalau saya akan datang lagi karena saya mau minta diajarin main Bingo tapi terakhir datang saya malah engga ketemu Anggun karena dia masih tidur dan ternyata dia juga sudah pergi…Rest in Peace Anggun…Maaf engga nepati janji untuk datang buat main Bingo bareng…really..really sorry…..

Kanker sangat kejam bukan? Dia bisa datang kesemua orang tidak perduli umur (anak kecil yang bahkan yang baru lahir pun bisa didatangi!!!!), status sosial, jenis kelamin, pendidikan kalau dia mau tinggal maka dia akan tinggal sesuka hati dia, dia bisa membuat orang yang didatangi-nya sangat menderita dan akhirnya menyerah walaupun sebelum menyerah semua usaha terbaik mereka lakukan. Kejam!!!!!

Seseorang yang sangat dekat dengan saya juga sedang berjuang melawan kanker …hanya doa yang bisa saya lakukan …mohon doanya juga dari yang membaca…..

Bung Andy dan Team Kick Andy...Terima Kasih sudah selalu berusaha menjadi berkat untuk orang lain..saya yakin mereka sekarang sangat bahagia karena Kick Andy membawa kenangan yang tidak akan terlupa untuk Sapta, Anggun dan anak-anak lain yang saat ini sedang berjuang melawan kanker....Ada kenangan yang membuat mereka bahagia yang mereka bawa…..



Berikut adalah tulisan dari Bung Andy yang saya ambil dari www.kickandy.com...

Senyum Sesaat


“Anggun meninggal”. Pesan singkat melalui SMS itu saya terima dari tim Kick Andy. Hati rasanya terbetot. Sakit dan perih. Tidak percaya tetapi nyata. Hampir semua tim Kick Andy tidak percaya Anggun meninggal. Pada saat terakhir berjumpa, gadis berusia 15 tahun ini tampak sehat dan ceria.


Perkenalan kami dengan Anggun dimulai ketika tim Kick Andy melakukan “riset” ke Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Saat itu kami hendak mengangkat kisah anak-anak yang terancam masa depannya akibat penyakit kanker. Dari kunjungan ke Dharmais itu, kami bertemu dengan Anggun dengan kisahnya yang mengharu-biru.


Anggun merupakan bungsu dari empat bersaudara ini lahir di keluarga yang berprofesi sebagai guru di daerah Lubuk Linggau, Palembang. Sejak Agustus 2007, Anggun sudah divonis kena kanker tulang di persendian lulut kaki kirinya. Dengan segala upaya dan kemampuan keuangan yang pas-pasan, remaja yang baru duduk di kelas 3 SMP ini pun lalu dibawa ke Jakarta untuk berobat.


Dengan kondisi yang ada dokter lalu memutuskan untuk mengamputasi kaki kiri Anggun sebatas lutut. Mendengar keputusan itu seluruh keluarga terduduk lemas. Terutama Anggun, tentu. Terbayang masa depan yang berat yang harus dihadapi remaja perempuan yang sedang menanjak dewasa ini. Tak terbayang bagaimana dia dapat menghadapi hidup, sebagai wanita, dengan hanya satu satu setengah kaki.


“Awalnya Anggun menolak diamputasi. Dia malu hanya punya satu kaki,” ujar Ningsih, ibu Anggun. Sampai pada suatu titik, antara pilihan hidup atau mati, Anggun menyerah. Dia pasrah. “Dokter bilang nanti saya bisa pakai kaki palsu,” ujar Anggun.


Pada saat yang sama, kami bertemu dengan Tri Sapta, seorang anak lelaki yang sangat aktif. Selain tampak cerdas, Sapta segera terlihat sebagai “bintang” di antara anak-anak penyandang kanker yang waktu itu sedang berobat di RS Dharmais.


Tampil selalu ceria, sepintas tidak ada yang menyangka Sapta menderita kanker otak. Kanker yang mendekam di dalam rongga kepalanya itu seakan tidak dirasakannya. Penampilannya sehari-hari ceria dan rajin melontarkan celetukan-celetukan yang membuat teman-teman sebangsalnya terhibur.


Maka, ketika pada saat kami berkunjung ke Dharmais, membawa serta Demian, pesulap yang sedang mennajak namanya, Sapta adalah korban empuk Demian. Jika Anda menyaksikan episode Masih Ada Hari Esok, maka Anda akan melihat seorang bocah yang dipermainkan oleh Demian.


Anggun dan Sapta menjadi pusat perhatian saat Kick Andy pada episode tersebut. Di situ dikisahkan betapa pergolakan bathin Anggun dan keluarganya akibat kanker yang menyerang tulang kakinya. Juga betapa Anggun sangat ingin untuk menjadi guru agama kelak. “Sebab dengan menjadi guru agama, saya tidak harus berdiri di depan murid-murid,” ujar Anggun, merujuk pada kakinya yang diamputasi.


Dari ibunya dan para perawat kami mendapat informasi Anggun sangat menginginkan punya kursi roda sendiri. Selain – tentu – kaki palsu. Maka, ketika seorang teman menawarkan bantuan, saya menyebut kursi roda. Pada hari yang ditentukan untuk rekaman, kursi roda itu kami berikan kepada Anggun, yang hari itu tampak bahagia. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar dari Lala, produser episode itu, bahwa ada donatur yang tergerak untuk memberi kaki palsu buat Anggun. Kami semua berbahagia mendengarnya.


Sementara Sapta, yang selama ini sudah bermain musik dan memiliki band anak-anak di desanya, di Lampung, juga mendapat kejutan. Pada saat saya memintanya untuk mendendangkan sebuah lagu untuk penonton Kick Andy, Sapta memilih lagu “Aku, Kau dan Dia”, milik Kangen Band. Lagu itu dipilihnya karena selama ini Sapta memang mengaku sangat mengagumi Kangen band, kelompok musik yang juga berasal dari Lampung. Apa yang terjadi ketika Sapta sedang mendendangkan lagu itu? Dari samping panggung muncul Dodhi, penyanyi Kangen band, diikuti personil band yang hari itu memang kami datangkan sebagai kejutan indah bagi Sapta. Kami semua, tim Kick Andy, hari itu sungguh puas dan bahagia. Sebab selain Anggun dan Sapta, kami juga memberi kejutan kepada Abiyu, yang terkena kanker mata, yang selama ini “gila bola”. Produsen Adidas yang kami hubungi dengan senang hati memberikan hadiah kejutan sepatu bola lengkap dengan seragam kesebelasan Jerman untuk Abiyu.


Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama. Sampai kemudian datang kabar dari orangtua Anggun bahwa anak tercinta mereka telah berpulang dipanggil Sang Khalik. Tak percaya tetapi nyata. Sebagian dari tim Kick Andy tak kuasa menahan air mata.


Belum usai duka menggelayut di hati kami, datang berita sedih lainnya: Sapta juga sudah pergi mendahului kami kembali pada Sang Pencipta. Ah, tak terlukis duka di hati kami. Terbayang wajah lugu yang ceria. Terngiang-ngiang ucapan Sapta bahwa jika besar nanti dia ingin membentuk sebuah grup band yang hebat. Grup band yang lebih terkenal dari Kangen band pujaannya.


Tapi, manusia berkehendak, Tuhan juga yang menentukan. Mereka telah pergi selama-lamanya. Kalaupun ada yang membuat kepedihan kami berkurang, keluarga Anggun dan Sapta masih menghubungi kami dan mengucapkan terimakasih atas perhatian tim Kick Andy terhadap anak-anak mereka. Setidaknya, sebelum anak-anak mereka dipanggil Tuhan Yang Maha Esa untuk selama-lamanya, mereka masih sempat melihat seulas senyum yang menghias bibir Anggun dan Sapta. Walau hanya senyum sesaat. Senyum yang dapat mereka jadikan kenangan, sebelum maut menjemput.



15 March 2008

Yang Dipikirkan, Dirasakan, Dialami

Pekerjaan yang sekarang mengharuskan saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai sifat dan karakter, dengan berbagai latar belakang status sosial dan pendidikan, yang saya kenal dan yang tidak saya kenal sedikit pun bahkan wajahnya baru saya tahu ketika berdiri di depan orangnya. Tapi ada kesenangan tersendiri ketika kita bisa berkenalan dengan orang baru yang tidak kita kenal sebelumnya, bisa masuk dalam kehidupan seseorang yang “unik“.

Saya selalu berpikir bahwa setiap pekerjaan apapun itu selalu memiliki dua sisi, selalu memberikan kita 2 pengalaman, 2 pilihan, 2 perasaaan dan 2 hasil. Tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja tapi harus dari keduanya baru terasa berimbang dan menjadikannya semakin berwarna. Pekerjaan yang sekarang benar-benar baru untuk saya tidak ada di dalam pikiran sebelumnya akan bekerja seperti sekarang, entah saya menikmati atau tidak tapi yang saya belajar banyak hal dari sini.

Sudah tidak sabar rasanya ingin mengejar mimpi yang berikutnya tapi belum bisa atau tepatnya belum ada keberanian meninggalkan semuanya dan mengejar sesuatu menurut kata hati sendiri tapi saya punya rencana dan perhitungan kapan saya akan memulainya (jika Tuhan mengijinkan). Hidup bebas (termasuk bebas traveling hehehehe...maunya!!!!) dan bisa menjadi berkat untuk orang lain. Saat ini selalu mencoba menikmati apa yang ada di depan mata dan selalu berpikir bahwa pekerjaan ini adalah cara tercepat untuk memberikan saya kebebasan dan keberanian dalam mengejar mimpi berikutnya.

Yang membaca mungkin berpikir kalau saya gila (or banyak maunya hehehe....) karena begitu banyak mimpi dalam hidup yang ingin dikejar...tapi yang buat semangat bangun setiap hari, yang buat semangat walaupun dapat perlakukan tidak enak, yang buat semangat untuk menempuh perjalanan jauh adalah mimpi saya...

Setiap orang pasti memiliki mimpi tapi terkadang kita terbentur pada keadaan, kondisi yang belum memungkinkan kita bebas melakukan atau mengejar mimpi itu...kuncinya menurut saya adalah sabar dan ikhlas, saya percaya apabila semua yang kita inginkan itu baik maka Tuhan akan merestui tapi Tuhan memiliki waktu yang tepat kapan mimpi itu akan menjadi nyata sambil menunggu waktu itu yang diperlukan adalah usaha terbaik untuk dilakukan agar mimpi itu semakin hari semakin mendekati kenyataan sambil berdoa tentunya agar mimpi itu sejalan dengan rencana indah Tuhan buat hidup kita....

Ada sms yang dikirimkan oleh salah satu sahabat yang saya masih simpan : “ ku tak akan menyerah pada apapun juga sebelum ku coba semua yang ku bisa. Tapi ku berserah kepada kehendak-MU, hatiku percaya Tuhan punya rencana“. (Des, sms-nya bagus bgt!!!)

14 March 2008

Kenangan Perjalanan ke Belitung

Tanggal 7 sampai tanggal 10 Maret kemarin saya dan sahabat-sahabat liburan ke Belitung (kampung halamanannya Jun), kali ada peserta lain yang ikut ada Valen (Jun’s husband), keponakan kita yang super duper lucu Daven dan 3 orang Tante yang heboh luar biasa terutama Tante Wawa yang selalu buat kita ketawa sampai sakit perut.

Ini liburan pertama dengan Jun ke tempat yang jauh setelah kita liburan ke Bali waktu masih SMU (da lama banget ya Jun kan paling jauh kita setelah itu kita ke Bandung hehe…), ada yang berubah ya itu Jun bawa 2 buntut hehehehe…Valen dan Daven tapi ini buat saya lihat sisi lain dari Jun as a mother n as a wife. Ini liburan kedua dengan Cen setelah Padang kalau dengan Ace ini jadi liburan bersama yang pertama.

Liburan kali ini benar-benar menyenangkan karena perjalanan kita hanya ke pantai, pantai dan pantai, makan, makan dan makan (tapi lama-lama berasa jadi sangat..sangat kenyang hehe…). Makanannya juga enak-enak juara untuk makanan adalah Pindang Cumi (dari hari pertama sampai mau pulang kita selalu pesan menu ini), ada makanan lain yang unik namanya Gangan (kalau di Bangka disebutnya Lempah Nanas) jadi Nanas yang di masak dengan Kepala Ikan, ada kepiting yang dimasak dengan angkak (ini juga enak) hehehe…banyak pokoknya makanan enak lainnya. Untuk minuman kita selalu pesan es Jeruk Kunci (sangat menyegarkan hehehe…).

Rencananya liburan kali ini kita mau menginap di Lor Inn yang hotelnya langsung menghadap ke pantai tapi ahirnya engga jadi kita akhirnya menginap di Bukit Berahu (yang menurut cerita sangat angker tapi Puji Tuhan kita engga merasakan apa-apa). Hotel ini juga indah kalau dari atas kita bisa liat view laut yang sangat luas, turun ke bawah kita juga langsung berhadapan dengan pantai (pagi bagun tidur langsung dengar suara ombak dan udaranya sangat beda...jadi ngebayangin kalau nanti tinggal di Bali akan seperti ini hihihi....).

Perjalanan kali ini sangat meyenangkan buat saya (berapa kali ya saya bilang sangat menyenangkan hehehe...), mengingatkan saya akan Bangka (rumah, jalanan dan makanannya hampir semuanya sama), bisa menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabat tercinta (ditengah-tengah aktivitas masing-masing yang beda-beda) yang pasti liburan kali ini buat kita jadi punya tambahan kenangan yang indah untuk diingat sampai nanti kita tua, ketawa-tawa sampai sakit perut (sudah cukup lama rasanya engga ketawa begini), merasakan jalan-jalan di pantai sampai gelap lalu bangun pagi dengar suara ombak dan jalan-jalan lagi di pantai, melihat Jun yang kehidupannya sudah memasuki tingkatan baru, liat dia urusin Daven sendirian dengan telatennya ( tebakan gua engga salah kalau lu akan jadi Mommy yang baik buat Daven), liat kelucuan Daven dan keantengannya (mungkin bakat jalan-jalan sudah langsung menurun ke Daven dari ortunya jadi kalau diajak jalan-jalan dia tahu hehehe...), lihat 3 orang tante-tante yang kompak (yang buat kita jadi mikir kalau nanti kita juga akan seperti mereka saling lempar celetukan, saling ngetawain). So guys, tahun depan Bali adalah tujuan berikutnya kan!!!!!duch da ga sabar rasanya!!!!!hehehehe....

Thank You buat Jun n Valen yang udah jadi tour guide kita, udah rencanain liburan ini, buat Cen n Ace yang udah luangin waktu kalian yang super sibuk untuk ikutan, buat Daven dengan kelucuannya, keantengannya (Dave, kamu jadi hiburan tersendiri loh buat Ii-Ii mu hehehehe), buat 3 orang Tante yang selalu buat kita ketawa..

Sampai jumpa di trip berikutnya hehehehe....

(mau liat foto-fotonya???silakan mampir ke blog 3 sahabat saya hehehe...foto sedang dipermak oleh ahli-ahlinya)

06 March 2008

Agustinus Wibowo

Saya sangat suka membaca cerita perjalanan dari seorang backpacker sejati Agustinus Wibowo, kagum dengan hasil foto dan karya tulisnya (sudah banyak yang dimuat di majalah internasional). Saya juga kagum dengan keberaniannya dalam mengambil keputusan untuk menjalani hidup dengan bebas, traveling ke tempat-tempat indah dengan kebudayaan yang beragam. Dalam mengambil keputusan saya membandingkannya dengan saya yang dalam membuat keputusan sangat penuh dengan pertimbangan karena ada banyak hal yang dipikirkan, ingin suatu hari nanti bisa seperti dia menjalani kehidupan benar-benar sesuai dengan panggilan jiwa hehehe….

Saya secara rutin buka blognya Agus, sempat khawatir ketika selama beberapa waktu tulisan di blognya tidak diperbaharui padahal biasanya dia cukup rutin buat tulisan baru di blognya. Saya sampai kirim email ke dia dan ternyata dia sedang sibuk buat buku. Kemarin dapat kiriman email dari Pak Sindhi (saya tahu Blog Agus dari Blog Pak Sindhi ini) tentang kisah perjalanan Agus yang dimuat di Kompas.com. Teman-teman bisa buka blognya Agus untuk baca kisah pertualangan Agustinus Wibowo…Selamat Menikmati….Semoga banyak semakin banyak yang bisa kita lihat, semakin banyak yang dapat kita pelajari…

Tulisan di bawah ini saya copy dan paste dari http://hongmingd.multiply.com/photos/album/7

Kawans,

Cerita perjalanan saya akan dimuat harian di Rubrik Petualang Kompas dot com.

Kisahnya tentang perjalanan saya di Asia Tengah, mulai dari Tajikistan sampai ke Turkmenistan. Kalau ada waktu, mampir-mampir ya....Terima kasih...



Agustinus WibowoAgus: Karena Hidup Ini Adalah Perjalanan...

“HIDUP ini adalah sebuah perjalanan.
Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini akan berakhir. Yang saya tahu, saya masih ingin terus melanjutkan petualangan saya. Masih ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi,” ujar Agustinus Wibowo dalam sebuah perbincangan.

Ketika tulisan ini dibuat, Agus, begitu biasa ia disapa, sedang menetap sementara di Afghanistan. Ia telah hampir tiga tahun melakukan perjalanan tanpa jeda melalu jalur darat melintasi Asia Selatan dan Tengah. Ia sedang melakukan ”misi pribadinya” keliling Asia, bagian dari cita-citanya keliling dunia. Perjalanannya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, China pada tanggal 31 Juli 2005. Dari negeri tirai bambu itu ia naik ke atap dunia Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, kemudian menembus ke barat, masuk ke Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan. Ribuan kilometer yang dilaluinya ia tempuh dengan berbaga macam alat transportasi seperti kereta api, bus, truk, hingga kuda, keledai dan tak ketinggalan jalan kaki.”

Saya menghindari perjalanan dengan pesawat. Perjalanan udara menghalangi saya menyerap saripati tempat-tempat yang saya kunjungi. Menyatu dengan budaya setempat, menjalin persahabatan dengan banyak orang di tiap tempat, merasakan kehidupan masyarakat di suatu tempat adalah hal-hal yang tidak mungkin saya dapatkan jika saya menggunakan pesawat terbang. Selain itu, uang saya tidak cukup untuk tiap kali naik pesawat..hehehe...” terangnya.

Agus adalah seorang petualang, pengembara, musafir, seorang backpaker sejati. Bagi banyak orang, aktivitas travelling murah sebagai seorang bakckpaker adalah hobi. Bagi Agus menjadi backpaker adalah hidupnya, napasnya setiap hari.Ia memulai perjalanannya dengan bekal 2.000 US dolar hasil tabungannya selama kuliah di Universitas Tshinghua, Beijing, Cina. Ketika duitnya habis ia akan menetap sementara di suatu tempat, bekerja serabutan guna mengumpulkan duit lagi dan kembali melanjutkan perjalanan.”Kebetulan saya suka fotografi. Saya menjual foto-foto saya dan menulis tentang tempat-tempat yang saya kunjungi untuk saya jual ke beberapa media di China, Singapura dan Indonesia. Selain itu saya bekerja serabutan sebagai apa saja untuk bertahan hidup,” tuturnya.

***

Agustinus Wibowo lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981 sebagai putra pertama pasangan Chandra Wibowo dan Widyawati. Lulus dari SMU 2 Lumajang ia melanjutkan kuliah di Jurusan Informatika Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Hanya satu semester ia di ITS, sebelum memutuskan pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijing, universitas paling ternama di daratan Tiongkok.

Sejak kecil ia sudah menyimpan harapan untuk berkelana ke negeri-negeri jauh. Waktu SD gurunya pernah bertanya tentang cita-citanya. Dengan polos dia menjawab ingin jadi turis. Gurunya bilang kalau turis itu bukan pekerjaan, bukan cita-cita. Tapi, Agus terus menyimpan mimpi masa kecilnya itu.

Di Lumajang ia tumbuh sebagai anak rumahan, lebih senang menghabiskan waktunya di kamar membaca buku. Jika harus keluar rumah ia memanggil becak. ”Dulu saya ini malas banget jalan siang-siang, panas. Bahkan, untuk pergi 400 meter saja saya pasti naik becak,” aku dia.

Semua itu telah berubah. Ia telah mewujudkan mimpinya menjadi seorang ”turis”. Anak manis yang malas bertemu panas matahari telah menjadi anak kehidupan yang tidur berselimut debu jalanan. ”Saya berubah dari seorang kutu buku tidak berguna menjadi seorang musafir yang tahan banting. Perjalanan mengajarkan saya tentang warna-wani hidup, ragam budaya dan manusia. Perjalanan ini juga memaparkan pada saya bahwa dunia tidak seindah yang kita impikan. Hidup ini cantik sekaligus buruk rupa, bahagia sekaligus muram, berwarna sekaligus kelabu. Saya belajar untuk tidak mengeluh dan belajar untuk selalu bersyukur atas segala hal yang saya terima setiap hari,” tutur dia.

Semua perubahan itu dimulai pada tahun 2002. Saat itu, seorang temannya di Tsinghua menantangnya untuk ”backpack” ke Mongolia. Kebetulan pada saat yang sama ia terinspirasi oleh seorang teman lainnya, cewek Jepang, yang pernah keliling Asia Tenggara sendirian selama enam bulan. Ia begitu terkagum-kagum ketika si cewek Jepang-nya itu bercerita bahwa selama perjalanan ia bertahan hidup dan berkomunikasi menggunakan ”bahasa tarzan” karena sama sekali tidak bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa negara-negara ASEAN.”

Waktu itu saya begitu terpesona oleh cerita petualangan teman Jepang saya ini. Petualangan yang wah, berani, dan penuh tantangan. Saya jadi bertanya sendiri, kapan saya bisa begitu? Maka ketika ada teman yang mengajak saya pergi ke Mongolia saya langsung mengiyakan,” ujarnya.

Ternyata, Agus tidak pernah bisa menghentikan langkahnya sejak saat itu. ”Semakin sering saya travelling sebagai backpaker, semakin dalam keingintahuan saya tentang hal-hal baru di dunia ini. Tidak hanya sebagai penonton, tapi terlibat sepenuhnya dengan seluruh pengalaman perjumpaan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Dunia ini tidak seluas daun kelor. Ada banyak kehidupan lain di luar sana dan ada banyak kebajikan yang kita tidak pernah tahu sebelumnya,” jelas Agus yang karena perjalanannya telah menguasai bahasa Hindi, Urdu, Farsi, Rusia, Tajik, Kirghiz, Uzbek, Turki, dan sekarang dalam proses menguasai bahasa Arab, Armenia, dan Georgia. Selain itu, ia fasih bahasa Inggris, Mandarin, Indonesia dan tentu saja bahasa Jawa.

Kemampuannya menguasai berbagai bahasa ini pernah membuatnya hampir cilaka. Suatu waktu di Afghanistan polisi setempat mencurigai dirinya sebagai seorang teroris dari Pakistan. Tiba-tiba, tanpa sebab dan alasan, sekelompok polisi memukulinya dengan garang. Spontan ia berteriak dan memaki. Namun sial, yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Urdu. ”Seharusnya saya ngomong dalam bahasa Inggris, tapi waktu itu spontan yang keluar bahasa Urdu,” cerita dia. Urdu, tak lain dan tak bukan, adalah bahasa nasional Pakistan.

Tidak cuma sekali dua kali Agus mengalami kejadian-kejadian naas seperti itu. Seorang pengelana mau tidak mau harus berteman dengan marabahaya. Anak mami yang bertahun-tahun hidup dalam kehangatan keluarga itu telah berulangkali ditangkap polisi, ditahan agen rahasia, dipukul preman, diserang perampok, dan bersahabat dengan rasa lapar. Ia pernah putus asa karena kameranya rusak total dan uang bekalnya dicuri orang. Yang paling buruk, karena sembarangan menginap di rumah orang ia pernah salah mampir di rumah pelaku kriminal.

Apakah orang tuamu tidak khawatir Gus? O, tentu saja sangat khawatir. Ia ingat betul pada perjalanan pertamanya ke Mongolia tahun 2002. Setelah tiga minggu di Mongolia ia menelepon ke rumah dan ibunya menjerit begitu medengar suaranya.

Tahun 2003 ia terobsesi mengunjungi Afghanistan. Mendengar nama negara itu saja orang sudah bergidik ngeri karena bayang-bayang kekerasan perang yang tiada henti di sana. Agus pun pergi diam-diam tanpa memberitahu orangtuanya, menuju negeri yang identik dengan darah, Taliban, dan perang. Tapi, toh mereka tahu juga tentang ”perjalanan gelapnya” ini. Sekembalinya dari Afghanistan, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya. ”Tapi itu dulu, sekarang mereka sudah mulai mengerti. Ayah saya akhirnya malah bangga memiliki putra seorang pengembara. Tapi, saya tahu di lubuk hati yang paling dalam mereka berharap suatu saat nanti saya kembali ke Indonesia, menetap dan hidup normal di sana. Mmmm.....bagian itu, saya belum bisa menjawabnya saat ini,” katanya.

***
Bagi Agus, pada batas tertentu travelling tidak lagi sekadar menikmati keindahan pantai, kesejukan udara pengunungan atau kemewahan spa di hotel berbintang. Bagian terbaik dari travelling adalah ketika kita menemukan apa yang disebutnya sebagai 'seni mengembara'. ”Itu adalah ketika kita tidak lagi menjadi diri kita sendiri, ketika kita kehilangan identitas kita, masa lalu kita, ikatan norma masyarakat yang selama ini mengikat kita, dan pada akhirnya lepas dari jerat-jerat yang selama ini memasung jiwa kita. Kita menjadi terbuka pada kehidupan dan menerima apa yang diajarkan oleh kehidupan pada kita. Ketika sampai pada titik ini, kita akan melihat dunia dengan mata hati yang baru,” tuturnya bijak. "Bahkan di negeri-negeri terpencil dan terbelakang seperti lekukan gunung Afghanistan dan padang pasir Pakistan, ada kebijaksanaan maha tinggi yang bisa dikisahkan orang-orang dari pedalaman yang terlupakan dunia," tambah dia lagi.

Masih di jalanan dia sekarang, entah sampai kapan. ”Cita-cita saya mencapai Afrika Selatan dengan menempuh perjalanan darat (kalau memungkinkan seratus persen), melintasi Kaukasus, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Barat." Di pelosok bumi sana, ada negeri-negeri yang hampir tak pernah kita dengar. Abkhazia, Transdniestr, Ossetia, Nagorno Karabakh. Negara-negara itulah yang menjadi obsesi Agus. Sampai kapan perjalanan ini akan terus berlangsung? "Tidak tahu. Saya tidak memberi batas waktu, dan biarlah perjalanan ini mengalir begitu saja,” ungkapnya.

Di Kolom Petualang di Rubrik Travel kompas.com ini Agus menyajikan secuplik kisah perjalanannya melintasi Asia Tengah, yaitu negara-negara yang semuanya berakhiran 'stan', mulai dari Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, hingga Turkmenistan. Kita mungkin merasa asing membaca kisah tentang tempat-tempat terpencil yang tertutup gunung dan tidak pernah disebut-sebut dalam peta dunia. Di sanalah Agus telah menginjakkan kakinya.Nantikan kisah petualangannya.....

01 March 2008

Pelajaran dari Seseorang

Beberapa hari yang lalu ketika sedang menunggu di pos keamanan sebuah pabrik saya mendapat nasehat yang baik dari seorang Bapak yang sedang bertugas waktu itu..nasehat yang juga saya pikirkan ketika sedang dalam perjalanan ke tempat itu…entah apa itu namanya kok kita bisa berpikir mengenai hal yang sama, mungkin hanya kebetulan. Di saat-saat tertentu ada seseorang yang tidak dikenal memberi nasehat tulus jadi terasa mengharukan.

Sambil menunggu kita bicara tentang banyak hal tentang pekerjaannya, anak dan istrinya, keluarganya dan pekerjaan saya juga..banyak pertanyaan yang muncul kemudian apakah sang Bapak tidak ingin keluar dari kehidupannya saat ini, apakah sang Bapak tidak berusaha mencari penghidupan yang lebih baik, apakah benar di luar sana tidak ada kesempatan yang terbuka untuk sang Bapak, apakah sang Bapak tidak bosan selam 3 tahun ini setiap hari selama 12 jam berada di pos keamanan yang kecil dan panas itu.

Tapi akhirnya pertanyaan-pertanyaan saya terjawab…saya melihat bahwa beliau memiliki semangat yang luar biasa dalam menjalani pekerjaannya, beliau mengatakan selama 3 tahun ini beliau berusaha tidak sekalipun datang terlambat, selama 3 tahun ini hanya satu kali beliau ijin tidak masuk kerja. Saya mendapat kesan bahwa Bapak ini sangat bangga dengan pekerjaan saat ini walaupun di mata saya saat itu beliau adalah seorang satpam tapi seorang satpam yang mencintai pekerjaannya. Saya jadi berpikir bahwa beliau tidak menganggap dirinya “hanya seorang satpam”. Beberapa hal seperti ini terkadang membuat semangat dalam pekerjaan ini karena saya benar-benar tidak tahu seperti apa orang yang akan saya temui walaupun tidak semua orang yang saya temui dalam setiap perjalanan saya disertai dengan ketulusan seperti sang Bapak.

Suatu hari nanti ketika tidak bekerja di pekerjaan ini lagi saya akan merindukan bertemu dengan orang-orang seperti sang Bapak, bertemu dengan orang-orang “unik” lainnya, merindukan perasaan senang saat ada yang setuju, saya akan merindukan perjalanan-perjalanan saya dengan kendaraan umum, naik ojek yang merepotkan dan merusak kerapian rambut hehehehe…tapi di bidang pekerjaan berikutnya saya yakin saya akan menemukan banyak hal lainnya lagi yang tidak kalah seru dan menyenangkan….perjalanan untuk sampai ke perkerjaan berikut masih sangat panjang, masih banyak angka-angka yang harus dilalui!!!!