24 August 2008

-Hope-

Perjalanan panjang yang harus dilalui tinggal tersisa beberapa bulan lagi, sampai hari masih optimis semuanya akan tercapai begitu juga untuk sahabat-sahabat tercinta (my partner in crime)..berharap di awal tahun kita akan bersama-sama mencapai apa yang kita impikan..“Pak Leader”..wish you can achieve your goal too this year..

I believe Lord always gives the best answer. When i 've prayed with all my heart and do my portion, i know i've already received answer from Lord at that second, because Lord loves me. And always gives best answer according to His grace and His kindness. In His time. When i am ready to receive it.

Aku percaya Tuhan,memberi jawaban terbaik. Ketika aku sudah berdoa dengan sungguh sungguh dan melakukan bagianku. Aku tahu aku telah menerima jawaban doaku saat itu juga, karena Tuhan mengasihiku. Ia selalu memberi jawaban terbaik dengan anugrah dan kemurahanNya. Pada waktuNya. Ketika aku siap.

Quote di atas diambil dari http://christianquote.blogspot.com

21 August 2008

Benton Junction

Saya dan sahabat-sahabat yang di Tangerang suka banget ngumpul di Benton Junction Lippo Karawaci karena kita juga rada males kalau harus ke Jakarta, terus engga bisa pulang malem karena kalau ngumpul Sabtu biasanya udah malem maklum siangnya kita beresin urusan masing-masing baru malemnya ngumpul-ngumpul kalau ngumpul di Jakarta kan harus dari siang biar puas, lagian ada si kecil Daven yang ikut jadi emang lebih nyaman kalau kita ngumpul di lokasi yang deket-deket aja.

Kita kalau ngumpul ya pasti makan hehehe..biasanya kalau makan kita suka pindah-pindah tapi paling sering ke Primavera (dari jaman Jun hamil makanya Daven kalau ke Primavera jadi super aktif hehehe..seneng bener dia), kalau engga kita ke Lau's Kopi Thiam (ajang baca kartu tarot hehehe...n kalau udah makan besar n capek jalan-jalan tapi masih belum mau pulang ngumpul lagi di sini), tempat favorit berikutnya Dragone hehehe...kebetulan kita semua penyuka makanan Jepang jadi Dragone termasuk sering kita datengin (atau karena di Tangerang resto Jepang yang Ok cuma dia ya hehehe..).

Kalau Sabtu di Benton Junction ini ada bazar macem-macem barang, jadi habis makan kita keliling bazar cuci mata doank sich sebenernya tapi banyak juga barang bagus di sini, baju-bajunya juga murah-murah.Suasana malam di sini keren kalau kata Cen kayak cafe-cafe di jalanan Paris ya Cen hehehe...Tiap Sabtu ada live musik juga jadi suasananya bener-bener rame, tapi yang paling kita nikmati ya itu bisa ngumpul sambil makan n cerita-cerita itu udah seneng banget, karena ga tiap Sabtu juga bisa ngumpul terus...Di Benton ini juga kita banyak habisin banyak moment saking seringnya ngumpul di sini, untung ada Benton ya kalau engga kita bisa bingung ngumpul di mana....


Sekarang kita punya tempat ngumpul baru di kawasan Lippo Karawaci...Times Book Store...lokasinya di seberang Benton Juction, tempat ini bener-bener nyaman buat baca buku, suasananya juga tenang, banyak banget pilihan buku yang bisa diliat (apalagi buku tentang rumah dan desain ga akan bosen diliat hehe....). Di Lantai 2 ada cafe kecil dengan roti-roti yang enak-enak. Habisin waktu 2 jam di sini sambil liat-liat buku engga ga akan berasa hehehe...berharap tempat ini akan terus bertahan engga akan tutup!!!

Foto Times Book Store saya ambil dari http://haloadri.wordpress.com/

19 August 2008

Kaca Spion

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler.

Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain peutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya. Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak mententu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ‘’Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,’’ ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.”

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.

Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.
Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.

Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.

Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.

Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Tulisan ini merupakan tulisan Bung Andy F. Noya yang saya ambil dari www.kickandy.com (Andy's Corner)..

15 August 2008

Berbuat Baik

Beberapa waktu yang lalu sharing yang diadakan di lingkungan membahas tentang perbuatan baik...ada beberapa ayat yang bisa kita pilih mewakili tentang perbuatan baik dan kita memilih satu ayat yang mengena buat kita lalu kita bagi alasan kita memilih ayat tersebut.


Saya memilih dua ayat yang saya pilih...
"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah" (Galatia 6:9)
Terkadang kita berhenti melakukan sesuatu yang baik karena sekeliling kita, karena ada suara-suara yang mempertanyakan mengapa kita harus berbuat baik, apa untungnya kita berbuat baik dan banyak lagi. Yang membuat saya melakukan sesuatu perbuatan baik untuk orang lain karena saya percaya hukum menabur dan menuai jadi apa yang saat ini saya lakukan akan saya tuai hasilnya entah kapan, saya tidak berharap saya yang akan menikmati tuaian itu tapi saya berharap tuaian itu bisa dirasakan oleh orang-orang yang saya cintai entah orangtua saya, adik-adik saya, suami dan anak-anak saya kelak atau sahabat-sahabat saya. Mata Tuhan tidak pernah buta, telinga Tuhan tidak pernah tertutup...jadi jangan jemu-jemu berbuat baik...


"Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu?Orang-orang berdosa pun berbuat demikian." (Lukas 6:33)
Nah ini yang sulit berbuat baik kepada orang yang sudah menyakiti kita, yang sudah membohongi kita dan sebagainya. Saya sempat memiliki pemikiran untuk tidak membawa nama-nama orang-orang yang meyakiti saya, yang tidak saya suka ke dalam doa saya, karena saya tahu semuanya akan percuma karena Tuhan tahu saya berdoa untuk kebaikan mereka tapi hati saya masih menyimpan sakit hati, masih menyimpan tidak suka..tapi belakangan saya coba untuk merubahnya, terlepas dari tulus atau tidak tulus, apabila kita sudah melakukan sesuatu yang baik setidaknya kita sudah berusaha merubah apa yang sudah tertanam, penilaian mengenai tulus atau tidak, munafik atau tidak saya kembalikan kepada Tuhan....


Tuhan Memberkati....

07 August 2008

Pengamen Cilik

Semalam kira-kira jam 20.00 ketemu pengamen anak kecil umurnya +/- 4 tahun, ngomong aja dia belum becus. Pakaiannya seadanya celana pendek, kaos singlet, engga pake sandal apalagi sepatu. Dia ngamen dengan kakaknya, kakaknya main gitar kecil adiknya yang nyanyi sambil bagi-bagi amplop untuk diisi dengan uang. Mungkin karena kasihan banyak penumpang yang ngasih uang untuk anak kecil ini. Sambil nyanyi dia nguap beberapa kali mungkin karena untuk ukuran anak seusia dia seharusnya memang sudah beristirahat di rumah. Mereka turun di perempatan sebuah lampu merah, duduk di trotoar sambil menghitung uang yang mereka peroleh…..

Melihat anak kecil itu saya langsung kepikiran dengan orangtuanya, saya tahu kondisi ekonomi sekarang sangat susah tapi apa sudah sampai tidak ada jalan lain sampai orangtua bisa mengijinkan anak kecil berumur 4 tahun untuk bekerja sampai selarut itu tanpa mempertimbangkan bahayanya naik turun kendaraan, bahayanya bertemu dengan orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab….Berapa banyak yang bisa dihasilkan anak itu dalam sehari, apakah penghasilannya bisa banyak menolong keluarga, apakah orangtua tidak bisa menggantikan penghasilan itu dengan bekerja lebih keras lagi, dengan mencari satu atau dua atau bahkan tiga pekerjaan tambahan lagi….

Untuk kasus anak kecil yang bekerja saya menyalahkan orangtua, apapun keadaannya seorang anak kecil berumur 4 tahun belum layak untuk bekerja seperti itu, tanggung jawab dan tugas orangtua untuk memutar otak sampai jungkir balik bagaimana caranya agar anak bisa hidup lebih baik. Ketika memutuskan untuk memiliki anak apakah mereka tidak berpikir jauh bagaimana supaya nanti anak memperoleh kehidupan yang baik, memperoleh pendidikan yang lebih baik…jangan bilang keadaan yang tidak memihak, semua orang dihadapkan pada kondisi yang sulit, saya melihat mereka yang hidupnya sulit tapi anaknya masih bisa sekolah, bahkan anak penjual pun jamu bisa sampai ambil master.

Ketika sudah hampir sampai di perumahan naik lagi anak kecil perempuan berumur +/- 6 tahun menyanyi lagi, di tepi jalan masih ada 5-6 orang anak-anak kecil lain yang berumur +/- 4-7 tahun ….anak-anak yang seharusnya hanya tahu tentang bermain, tentang sekolah yang baik agar bisa memiliki kehidupan yang lebih baik sudah harus mencari uang sampai larut malam…lalu kapan lingkaran setan kemiskinan akan berakhir????saya pun tidak tahu jawabannya…..