Gambar diambil dari :http://images.google.co.id/images?ndsp=20&um=1&hl=id&q=happy+new+year&start=0&sa=N
27 December 2008
Happy New Year
Gambar diambil dari :http://images.google.co.id/images?ndsp=20&um=1&hl=id&q=happy+new+year&start=0&sa=N
17 December 2008
...waktu...
07 December 2008
Dear Om...
Om, aku baru tau loh ternyata nama Om Liauw Helyanto kalau aku dari awal aku akan ledekin Om "Namanya keren Om." hehehe..atau kalau liat foto Om waktu masih muda aku bisa bilang "Om ganteng ya waktu mudanya." hehehe..kebayang reaksi Om hehehe...
Baru 2 mingguan yang lalu kita makan mie bareng Om, Om bilang mie-nya enak, nasi tim-nya juga enak n bener Om aku suka nasi tim-nya mana jamurnya banyak lagi. Waktu mau berangkat dari rumah aku tanya "Om kita bilang Ridka engga?" hehehe..padahal diem-diem aku sms Ridka Om, kan takut Ridka khawatir kalau liat Om engga ada di bawah. Aku pegang tangan Om kata Om, "kamu takut Om jatuh ya?" engga kok Om emang cuma mau gandeng aja.
Waktu itu Om ceria banget Om bilang penjual mienya udah tau Om biasa pesen minum apa jadi waktu itu cuma bilang Om pesen yang biasa, aku tanya yang biasa apa Om, Om bilang teh tawar anget. Kita makan sambil ngobrol-ngobrol. Om juga bilang di deretan toko mie itu ada yang jual risoles n lumpia enak, Ridka bisa makan ampe 4, kalau Wani n Om cuma makan bisa makan 2 hehehe...Aku janji kapan-kapan mau beliin Om n bawa ke rumah tapi sorry ya Om engga sempet beliin Om...Sepanjang jalan pulang Om sapa semua orang, Om juga lambai tangan sama semua orang yang kita lewati, mereka semua kenal dengan Om juga. Om engga mau aku anter ampe rumah karena takut keburu hujan, akhirnya aku anter Om cuma ampe ujung gang, aku liat Om sampai masuk rumah baru aku pergi, om usir aku suruh cepet-cepet jalan hehehe...
Waktu Jo 30 hari kita makan mie bareng lagi Om, Om baru selesai kasih makan Mido, terus Ipo suruh kita makan mie ulang tahun Jo ya Om, kita makan berdua tapi engga sempat banyak ngobrol, abis itu aku pamit pergi..itu terakhir aku ketemu dengan Om dech..
Om, hari Rabu kemarin aku ke rumah Om, yang bukain pintu bukan Om lagi, beda rasanya karena setiap aku ke sana selalu Om yang bukain pintu, aku juga udah hapal ekspresi Om, Om pasti akan langsung senyum dengan tulusnya..bakalan engga ada lagi yang bukain pintu dech Om, terus senyum dengan tulusnya, terus kalau aku pulang juga engga ada lagi yang anter ampe pintu sambil bilang hati-hati.
Buat aku, Rita n Dessy salah satu yang menyenangkan waktu malem-malem kita nongkrong di Lau's kopi tiam hehehe...kita pesen teh susu panas n roti bakar srikaya, Om mungkin pusing ya Om waktu itu hehehe...kita bawel banget ngomongin kerjaan hehehe...Om tau Rita sedikit terobsesi mau sering-sering ajak Om jalan-jalan loh hehehe...dia suka bilang ke aku kadang angan-angan dan realita suka engga nyambung banyak mau-nya hehehe..dia emang kadang puitis Om...
Om, waktu di rumah duka Om tau orang-orang kasih kesan apa tentang Om???hehehe..jangan GR ya Om, kalau dari ponakan Om yang di Serpong dia bilang dari dia kecil dia baru sekali liat Om marah!!itu pun karena urusan pabrik, dia liat Om keluar dari ruang meeting muka Om udah beda banget dan dia tau Om lagi marah besar,selain itu dia engga pernah liat Om marah...hebat Om!!!terus dari adik ipar Om, dia bilang Om orangnya engga banyak omong, baik banget dan selalu senyum hehe..kalau selalu senyum aku tau Om (senyum Om selalu keliatan tulus, ya kan Ta???). Hampir selalu ada kata-kata dari orang-orang kalau Om itu baik..aku tau mereka bener Om...
Om, kemarin Wani bilang rumah rasanya sepi engga ada Om..
Om, istirahat yang tenang ya, semua masalah di dunia ini Om engga usah pikirin lagi karena kita percaya selalu akan ada jalan keluarnya..Bantu jagain Ridka, Wani n Jo...
We'll miss you Om....
28 November 2008
Chapter 29
08 November 2008
Empati
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chiken Soup”, saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata “terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?’’ Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.
02 November 2008
Liauw Jonathan Price
Ngintip dikit ya...
Tidur lagi aja dech..
Just born our 1st son 9.25 am. Liauw Jonathan Price, 3.17 Kg, 52 Cm in Siloam Hospital Lippo Karawaci…(Thursday, 23 October 2008).
Hi Jo!!!!!welcome to this Beautiful World ya!!!!
Jo adalah keponakan saya yang ke-3 dari sahabat-sahabat saya yang sudah menikah, Mama Jo adalah Wani, Jo sudah punya 2 orang Koko hehehe..Daven Valentino n Edmund Danuarta.
Jo lahir secara Caesar karena masalah posisi leher yang mendongak padahal Mama-nya dari awal sudah sangat mantap untuk melahirkan secara normal hehe..
Wani menjalani masa kehamilannya dengan cool hehehe…pada masa awal kehamilan tetep penuh dengan perjuangan ya Wan, tapi kalau dibandingkan dengan perjuangan Jun n Mel sepertinya kehamilan Wan lebih mudah.
Buat kita-kita para sahabat (terlebih gua Wan hehehe…) lucu liat perkembangan Wani dari yang engga suka sama sekali dengan anak kecil (anti malah hehehe…), bahkan dia bilang pas lagi hamil Jo aja dia cuma suka anak kecil tertentu aja hehehe..tapi begitu Jo lahir kita merasa dia berubah banget mulai dari komitmen-nya untuk kasih ASI Ekslusif (semoga bertahan dengan ASI yang banyak ya Wan), n ini beberapa bagian kecil sms dia berkaitan dengan Jo…
“lagi nyusuin Jo”
“lagi liat Jo” (engga ada bosen-bosenya liatin Jo)
“suka nyiumin Jo” (seneng nyiumin wangi baby).
“gua lagi jemur Jo”
“sedih ga bisa kasih ASI langsung ke Jo gara-gara…”
Amazing aja liat perubahannya karena dia adalah seseorang yang anti anak kecil beda dengan 2 sahabat yang lain yang memang engga anti dengan anak kecil hehehe…
Wan, tetap semangat ya jalanin kehidupan baru as a mommy..seperti gua bilang gua penasaran banget liat lu dan Ridka didik Jo dengan “ke-coolan” kalian hehehe…
Wan, Ridka Selamat udah jadi orangtua ya, Ridka..awas ya kalau jawaban yang di lift itu berubah!!!!hehehehe…just kidding..Kalian berdua pasti jadi orangtua yang baik!!!Wan, jangan lupa pesen gua sebelum lu melahirkan ya:) (awas kalau tanya yang mana ya San hehehe…). Udah berapa kali ya gua mengancam lu berdua hehehe…(kalau Jo baca dia bisa-bisa ngambek kok Ii yang ini mengancam ortunya melulu hehehe…)
26 October 2008
Mitch Albom's Books
Dari The Five Peolpe You Meet in Heaven saya belajar memahami bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup saya, setiap orang yang saya temui dalam kehidupan saya membawa arti tersendiri yang pada akhirnya merangkaikan cerita-cerita indah dan menarik, yang membuat cerita hidup saya menjadi lebih lengkap.
Dari Tuesday With Morrie, saya belajar bahwa dalam menghadapi saat-saat terakhir dari kehidupan kita bisa menjadi berguna, bisa menjadi berkat untuk orang lain, tidak merasa putus asa dalam menghadapi kematian tapi menjadikan semua prosesnya indah dan menarik. Salah satu cerita nyata yang bisa membuat saya melihat proses kematian dari sisi lain.
Dari For One More Day, saya belajar tentang memanfaatkan waktu dengan orang-orang tercinta, jangan pernah ada penyesalan ketika orang yang kita cintai pergi karena itu gunakan waktu dengan baik, karena waktu tidak pernah bisa berputar kembali, mereka yang telah pergi tidak pernah bisa kembali.Terkadang dari membaca kita menemukan banyak hal yang bisa kita ambil untuk kehidupan ini..
Gambar buku diambil dari :http://www.bookoopedia.com
06 September 2008
Final Sprint
Selamat Berjuang!!!!jangan pernah berhenti tetap fokus untuk terus lari demi goal dan mimpi yang ingin kita capai entah mimpi itu berkaitan dengan diri kita sendiri atau berkaitan dengan orang-orang yang kita cintai... Ingat satu hal kekalahan hanya terjadi ketika kita berhenti dan menyerah!!!!!
Saya suka banget dengan lagu ini, lagu yang mengingatkan untuk terus berusaha, kata-katanya bagus banget kalau kita resapi....Semoga juga bisa memberi inspirasi untuk kita semua untuk melewati 86 hari ke depan dengan udaha maksimal yang bisa kita lakukan..jangan lupa DOA juga akan selalu memberi kita kekuatan ketika di depan sana penuh dengan berbagai hal yang membuat kita ingin menyerah...
Here we are sharing our lives
We made it through
The good and bad times
And still we stand
With HOPE in our heart
No matter what we will play our part
And now we've come so far
One change to touch a star
Go HIGHER and HIGHER
Find your guiding inspiration
In a place where dreams are made
With a lifetime preparation
It's no time to be afraid
Put our differences behind us
While we shine like the suns
See what we've all become
Together we are one
Deep inside your heart dan soul
Your work so hard to reach your goal
With every step
WITHOUT REGRET
You gave it all
Till there was nothing left
Seek out the strength to win
No thoughts of giving in.....
(Together we are one / Delta Goodrem)
http://www.youtube.com/watch?v=XNsrzw8T4U4
24 August 2008
-Hope-
I believe Lord always gives the best answer. When i 've prayed with all my heart and do my portion, i know i've already received answer from Lord at that second, because Lord loves me. And always gives best answer according to His grace and His kindness. In His time. When i am ready to receive it.
Aku percaya Tuhan,memberi jawaban terbaik. Ketika aku sudah berdoa dengan sungguh sungguh dan melakukan bagianku. Aku tahu aku telah menerima jawaban doaku saat itu juga, karena Tuhan mengasihiku. Ia selalu memberi jawaban terbaik dengan anugrah dan kemurahanNya. Pada waktuNya. Ketika aku siap.
Quote di atas diambil dari http://christianquote.blogspot.com
21 August 2008
Benton Junction
Kita kalau ngumpul ya pasti makan hehehe..biasanya kalau makan kita suka pindah-pindah tapi paling sering ke Primavera (dari jaman Jun hamil makanya Daven kalau ke Primavera jadi super aktif hehehe..seneng bener dia), kalau engga kita ke Lau's Kopi Thiam (ajang baca kartu tarot hehehe...n kalau udah makan besar n capek jalan-jalan tapi masih belum mau pulang ngumpul lagi di sini), tempat favorit berikutnya Dragone hehehe...kebetulan kita semua penyuka makanan Jepang jadi Dragone termasuk sering kita datengin (atau karena di Tangerang resto Jepang yang Ok cuma dia ya hehehe..).
Kalau Sabtu di Benton Junction ini ada bazar macem-macem barang, jadi habis makan kita keliling bazar cuci mata doank sich sebenernya tapi banyak juga barang bagus di sini, baju-bajunya juga murah-murah.Suasana malam di sini keren kalau kata Cen kayak cafe-cafe di jalanan Paris ya Cen hehehe...Tiap Sabtu ada live musik juga jadi suasananya bener-bener rame, tapi yang paling kita nikmati ya itu bisa ngumpul sambil makan n cerita-cerita itu udah seneng banget, karena ga tiap Sabtu juga bisa ngumpul terus...Di Benton ini juga kita banyak habisin banyak moment saking seringnya ngumpul di sini, untung ada Benton ya kalau engga kita bisa bingung ngumpul di mana....

Sekarang kita punya tempat ngumpul baru di kawasan Lippo Karawaci...Times Book Store...lokasinya di seberang Benton Juction, tempat ini bener-bener nyaman buat baca buku, suasananya juga tenang, banyak banget pilihan buku yang bisa diliat (apalagi buku tentang rumah dan desain ga akan bosen diliat hehe....). Di Lantai 2 ada cafe kecil dengan roti-roti yang enak-enak. Habisin waktu 2 jam di sini sambil liat-liat buku engga ga akan berasa hehehe...berharap tempat ini akan terus bertahan engga akan tutup!!!
Foto Times Book Store saya ambil dari http://haloadri.wordpress.com/
19 August 2008
Kaca Spion
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler.
Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain peutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya. Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak mententu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ‘’Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,’’ ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.”
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.
Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.
Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.
Tulisan ini merupakan tulisan Bung Andy F. Noya yang saya ambil dari www.kickandy.com (Andy's Corner)..15 August 2008
Berbuat Baik
07 August 2008
Pengamen Cilik
Semalam kira-kira jam 20.00 ketemu pengamen anak kecil umurnya +/- 4 tahun, ngomong aja dia belum becus. Pakaiannya seadanya celana pendek, kaos singlet, engga pake sandal apalagi sepatu. Dia ngamen dengan kakaknya, kakaknya main gitar kecil adiknya yang nyanyi sambil bagi-bagi amplop untuk diisi dengan uang. Mungkin karena kasihan banyak penumpang yang ngasih uang untuk anak kecil ini. Sambil nyanyi dia nguap beberapa kali mungkin karena untuk ukuran anak seusia dia seharusnya memang sudah beristirahat di rumah. Mereka turun di perempatan sebuah lampu merah, duduk di trotoar sambil menghitung uang yang mereka peroleh…..
Melihat anak kecil itu saya langsung kepikiran dengan orangtuanya, saya tahu kondisi ekonomi sekarang sangat susah tapi apa sudah sampai tidak ada jalan lain sampai orangtua bisa mengijinkan anak kecil berumur 4 tahun untuk bekerja sampai selarut itu tanpa mempertimbangkan bahayanya naik turun kendaraan, bahayanya bertemu dengan orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab….Berapa banyak yang bisa dihasilkan anak itu dalam sehari, apakah penghasilannya bisa banyak menolong keluarga, apakah orangtua tidak bisa menggantikan penghasilan itu dengan bekerja lebih keras lagi, dengan mencari satu atau dua atau bahkan tiga pekerjaan tambahan lagi….
Untuk kasus anak kecil yang bekerja saya menyalahkan orangtua, apapun keadaannya seorang anak kecil berumur 4 tahun belum layak untuk bekerja seperti itu, tanggung jawab dan tugas orangtua untuk memutar otak sampai jungkir balik bagaimana caranya agar anak bisa hidup lebih baik. Ketika memutuskan untuk memiliki anak apakah mereka tidak berpikir jauh bagaimana supaya nanti anak memperoleh kehidupan yang baik, memperoleh pendidikan yang lebih baik…jangan bilang keadaan yang tidak memihak, semua orang dihadapkan pada kondisi yang sulit, saya melihat mereka yang hidupnya sulit tapi anaknya masih bisa sekolah, bahkan anak penjual pun jamu bisa sampai ambil master.
Ketika sudah hampir sampai di perumahan naik lagi anak kecil perempuan berumur +/- 6 tahun menyanyi lagi, di tepi jalan masih ada 5-6 orang anak-anak kecil lain yang berumur +/- 4-7 tahun ….anak-anak yang seharusnya hanya tahu tentang bermain, tentang sekolah yang baik agar bisa memiliki kehidupan yang lebih baik sudah harus mencari uang sampai larut malam…lalu kapan lingkaran setan kemiskinan akan berakhir????saya pun tidak tahu jawabannya…..
20 July 2008
Memories from Jayapura (My Partner in Crime hehehe...)
Jadwal kerja kita paling sering dimulai jam 08.00 s.d 09.00 kita jalan dari rumah pulang kerja engga tentu, tapi pasti di atas jam 6 malam. Kita kerja ketemu dengan orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali dengan menggunakan transportasi umum ”taksi” dengan udara yang sangat panas..bahkan kita harus jalan juga..jadi kalau kita kerja dengan partner yang engga bisa diajak “susah”, ga bisa diajak diskusi, ga bisa diajak sharing, ga bisa diajak ketawa yang ada kita bisa stress semuanya. Untung 2 partner saya ini orang-orang yang luar biasa yang akhirnya buat kita bisa bertahan 5 minggu di sana dengan suasana yang sangat menyenangkan..
Kita bertiga suka bercanda kalau kerja kita selama di Jayapura adalah kerja yang benar-benar mengandalkan fisik itu terbukit dengan Ta menghabiskan 2 sepatu + kerusakan pada tas, gua 1 sepatu + kerusakan pada tas, Des 1 sepatu + kerusakan pada tas hehehe…kulit menghitam itu pasti, Des saraf kejepitnya tambah parah, Ta & gua sekarang bahunya sakit hehehehe…tapi berat badan naik kenapa????hehehe…karena kita makan seperti pekerja keras yang makan nasinya sangat banyak. Hari kedua di Jayapura kita makan di RM Padang, nasi di RM Padang biasanya sangat banyak kan jadi 1 porsi nasi gua dan Ta bagi 2 karena takut engga habis. Tapi setelah seminggu di sana berapa banyak nasi yang dikasih pasti habis sama kita bahkan di RM Padang yang kita bilang nasinya banyak hehehe…yang lucu kita bertiga selalu ketawa (entah di jalan, di taksi, di rumah, di tempat nasabah) karena khayalan engga penting kita, kita juga selalu sibuk ngobrol bertiga (ampe Des julukin kita tuch autis) tapi begitu makan kita langsung diam, engga ada yang ngomong, semua langsung asyik makan tanpa perduli apa pun hehehehe…baru selesai makan berisiknya muncul lagi, khayalannya datang lagi hehehe…
Diantara kita selalu ada yang melakukan hal konyol yang sebenarnya tidak kita sengaja tapi muncul begitu aja, gua ga tau apa karean kita emang udah rada-rada hehehe…Ta bisa nyasar keluar dari rumah menuju jalan utama hehehehe (ampe hari ini gua masih bingung kok bisa ya)…Des selalu dihantui rasa takut akan kanker kulit karena panasnya Jayapura (padahal da pake payung), gua yang kebanyakan salah ngomong mandarin jadinya Des bingung maksud gua apa. Ada banyak kejadian lucu lainnya kadang Des yang bisa tiba-tiba sakit perut ampe panik cari WC (gua masih inget kejadian di Hamadi Des), kita selalu heboh begitu ketemu ruangan AC (Guys kejadian di Veneta Entrop itu bener-bener parah loh kalau dipikir hehehe….), selalu komentar kalau makanan di Jayapura sangat, sangat mahal hehehe…tapi tetap makan karena memang harganya udah segitu. Membicarakan dan menertawakan sekelompok orang padahal kita juga ditertawakan dan dibicarakn oleh sekelompok orang itu hehehe…dikatain gila oleh bapak-bapak di angkot hehehe…(ditegur karena ketawa terlalu kenceng tapi kita engga bisa berhenti). Ritual kita adalah mengawali hari dengan tawa dan mengakhiri hari juga dengan tawa hehehehe… Kangen banget dengan semua aktivitas kita :(
Apa kita selalu tertawa???engga….karena ada masanya kita engga berani berkeluh kesah, engga berani komentar negative karena takut mempengaruhi temen yang lain, ada masanya pulang ke rumah kita cuma diam di angkot sibuk dengan pikiran masing-masing…akhirnya di beberapa moment yang ada cuma tangis yang keluar…
Perjalanan kali ini adalah perjalanan gua yang paling lama dan jauh dari rumah 5 minggu hehehe…pertama kali juga gua tinggal dengan orang diluar keluarga untuk waktu yang lama, semuanya buat gua belajar banyak hal, belajar tentang toleransi, belajar tentang menahan diri, belajar tentang menerima apa adanya, belajar tentang saling mengisi dan melengkapi..walaupun belum sempurna tapi setidaknya dari perjalanan untuk kerja dengan 2 orang sahabat tercinta sangat sangat menyenangkan…
Ta Chan, kerja dengan lu menyenangkan dan buat gua belajar banyak hal tentang Marketing, sorry kalau ada yang tidak menyenangkan dari gua selama sebulan di Jayapura, ada yang mengecewakan, ada yang buat kesal, gua terlalu suka beberes ampe buat engga nyaman hehehe…buat gua semuanya indah untuk dikenang Ta…Sampai ketemu di perjalanan kerja berikutnya ya hehehehe…gua gaya pisan ya!!!!!Thank You sudah memutuskan bergabung di perjalanan kali ini….
Ta Chan, Mimpi besar kita memang engga terwujud di perjalanan kali ini tapi ingat satu hal ya sebagai manusia kita sudah melakukan bagian kita dengan usaha terbaik dan semaksimal yang kita bisa, hasil dari semua yang kita lakuin adalah bagiannya Tuhan bukan bagian kita lagi…
Dessy, Thank you sudah menyusul kita ditengah semua persoalan yang ada, thank you udah membawa keceriaan diantara kita..
Selesai sudah tulisan tentang perjalanan gua dan sahabat gua di Jayapura, engga mungkin semua bisa dituangin dalam tulisan di blog ini karena selama 5 minggu disana terlalu banyak hal yang indah, menyenangkan dan tidak menyenangkan yang udah dilewati tapi semuanya masih gua ingat dan sampai hari ini gua masih suka senyum-senyum sendiri kalau ada yang gua ingat tentang kejadian-kejadian gua dan sahabat gua di Jayapura…
Ada banyak yang udah bantu kita dengan tulus tanpa pamrih, yang menerima kita dengan baik dan yang juga menolak kita dengan baik. Apapun yang kita terima waktu itu pada akhirnya kita bisa jadikan sebagai pelajaran berharga untuk kedepannya...Terima Kasih and God Bless
18 July 2008
Memories From Jayapura (Uniquely Jayapura…)
Di Jayapura tidak ada taksi seperti di Jakarta yang ada hanya angkutan kota tapi angkutan kota di sana disebut “taksi”. Untuk di wilayah dalam kota Jayapura (Percetakan, Pasifik Permai, Entrop) hanya ada 3 taksi 2 taksi berwarna hijau (lupa nomornya berapa karena kita kalau naik pun harus tanya dulu) dan taksi warna putih. Pusat taksi hijau terminal Entrop (mungkin orang-orang terminal kenal dengan kita karena tiap hari kita ke terminal ini bisa berkali-kali hehehe…). Taksi warna hijau ada 2 rute yaitu Entrop-Hamadi-APO dan taksi hijau dengan rute Entrop-Percetakan (apa kebalik ya beneran da lupa) tarif untuk 2 taksi ini sama yaitu Rp. 2.500. Percetakan dan sekitarnya adalah pusat bisnis yang ramai karena ada banyak toko, toserba dan tempat makan di sini, hotel-hotel juga pusatanya di sini, bank-bank hampir semua toko besar ada di sini dan lengkap. Posisi dusuk taksi warna hijau ini engga seperti angkutan di sini tapi di sana posisi duduknya menghadap ke depan semuanya di samping supir hanya boleh duduk 1 penumpang, lalu baris ke-2 diisi oleh 3 orang dan baris terakhir di isi oleh 4 penumpang, kalau dari terminal taksi engga akan jalan sebelum jumlah penumpangnya pas. Tapi kalau taksi putih posisi duduknya sama dengan angkutan di sini.
Dari Percetakan dan sekitarnya kalau mau menuju Pasifik Permai kita harus naik “taksi” warna putih dengan tariff Rp. 2.000 saja karena memang dekat tapi kalau jalan berasa juga J. Pasifik Permai juga salah satu pusat bisnis yang juag cukup ramai. Kalau kita seringnya jalan dari APO menuju Pasifik Permai karena memang sangat dekat kecuali kalau hujan, panas terik dan udah berasa capek banget hari itu baru kita naik taksi (pengiritan jalan terus hehehe…). Di Pasifik Permai ini saya da Ta hari kedua tiba di Jayapura mulai pekerjaan kita datangi toko-toko di sini, ada banyak kesan karena kita ketemu Alfa & Family di sini (They are our angels), ketemu dengan Ko Tonny ( yang ternyata kita satu penerbangan dengan dia dan dia liat kita di pesawat tapi kita baru ngeh setelah kita datang ke tokonya dan dia cerita), Pak Tjoandy yang banyak kasih kita referensi. Dari mereka berdua kita jadi tahu banyak hal tentang Jayapura, banyak sekali kebaikan yang mereka tawarkan untuk kita yang buat kita sangat..sangat bersyukur.
Di Pasifik Permai ini juga berdiri hotel bertaraf internasioanl Swiss Bel Hotel yang sangat nyaman, pemandangan dari lounge hotel ini menghadap ke laut dan pelabuhan Jayapura (apa ya nama pelabuhannya Ta???). Ada rumah makan padang favorit kita juga yang buat kita ini adalah restoran padang yang paling enak dan bersih yang kita temui selama kita di Jayapura. Kotanya engga besar karena dalam 1 hari kadang kita bisa lewati lokasi yang sama berkali-kali hehehe….
PinangMasyarakat asli Papua ternyata sangat suka mengunyah pinang, kita sering ketemu dengan pejual pinang dijalanan mereka menjual pinang dengan sirih dan kapur. Jadi jangan kaget kalau jalan-jalan yang kita lewati, kita akan sering ketemu dengan bekas ludahan pinang, buat mereka itu udah jadi hal biasa. Bahkan di dalam taksi pun mereka bisa mengunyah pinang dan membuang ludahnya sembarangan hehehehe…jadi kalau jalan harus hati-hati juga jangan sampai menginjak ludahan pinang yang belum kering. Di salah satu mal besar di Sentani di food courtnya bahkan sampai dipasang pengumuman dilarang mengunyah pinang bukannya dilarang merokok loh hehehe…Disini kalau liat anak SMU mengunyah pinang sudah tidak heran lagi itu adalah hal biasa, bahkan waktu mau pulang di Bandara kita lihat anak kecil umur 5 tahunan juga sudah mengunyah pinang.
Papeda
Salah satu makanan khas Papua ini terbuat dari sagu yang dimasak dan dimakan dengan ikan kuah kuning (ikan kakap merah). Dari awal saya sudah bertekad untuk mencoba makanan ini karena udah dating jauh-jauh kudu coba makanan khas-nya. Sempet denger kalau rasanya seperi lem dan baunya juga seperti bau lem yang kita suka buat dari sagu (dan katanya engga semua orang biasa makan makanan ini), tapi kalau engga nyoba pasti penasaran. Papeda yang kita makan dibuat oleh karyawannya Tante Susan (Alfa’s mom) menurut info yang kita dengar Papeda dari Café mereka memang terkenal enak. Jadilah pas Ta mau pulang kita diundang makan siang sama Tante dan keluarga dan Tante sudah siapin kita Papeda. Papeda ini harus diambil dengan menggunakan 2 sumpit, diputar-putar membentuk gulungan sampai putus baru dipindahkan ke piring, lalu dimakan dengan kuah ikan kuning tadi. Rasanya?????ENAK!!!untuk sagunya sendiri sudah tidak ada bau atau rasa apapun karena tertutup oleh rasa kuah ikan kuning, lalu kita tidak perlu mengunyah sagunya karena memang tidak bisa dikunyah hanya ditelan saja, yang membuat enak adalah kuah ikan kuning-nya karena rasanya segar, mungkin karena menggunakan belimbing wuluh, kunyit (gat au bumbun lainnya apa hehehe…), ditambah dengan sambal pedas…buat saya ini adalah salah satu makannya yang recommended banget.
Matoa
Salah satu buah khas dari Papua, buah ini sangat unik karena merupakan perpaudan 2 rasa dan 2 bentuk buah-buahan. Di buah ini ada rasa duriannya juga Cuma testur dagingnya seperti leci, bijinya seperi biji durian tapi dalam versi kecilnya..katanya di Jakarta sudah ada jadi kalau pas liat di supermarket boleh beli karena enak dan unik rasanya...
Koteka and other souvenirs
Ehm..komantar apa ya tentang ini pasti udah banyak tahu fungsinya untuk apa hehehe..jadi liat aja gambarnya dengan souvenir-souvenir khas Papua lainnya...



Memories From Jayapura (Our Angels)
Selanjutnya kita sering ketemu Alfa di Sekolahnya karena kita sempat datangin ibu-ibu di sekolah Alfa, dari hanya kenal Alfa jadi kenal dengan 2 orang adiknya Belinda Victoria dan Ariella Verina yang juga sangat menggemaskan hehehehe…walaupaun terkadang juga bikin kita panik dan kaget dengan kelakuan mereka, mungkin karena kita belum tahu cara hadapi anak-anak kecil. Alfa berumur 12 tahun, Belin (biasanya dia panggil dirinya Cici) berumur 9 tahun, Ella berumur 7 tahun… Secara akademik anak-anak ini anak-anak berprestasi di sekolah mereka, Alfa bahkan meraih rangking pertama dan mahir berbahasa Inggris. Ketiga anak ini anak-anak yang sangat aktif dan masih suka ribut diantara mereka hehehe…yang buat rumah selalu ramai begitu juga kalau pergi-pergi…

Dari perkenalan dengan Alfa, Belin dan Ella kita jadi kenal juga dengan orangtua mereka Om dan Tante orang-orang yang luar biasa tapi tetap penuh kesederhanaan. Bertemu dengan mereka jadi berkat tersendiri untuk kita, mereka jadi kebahagiaan tersendiri, terkadang disaat lelah kerja dan di Hari Minggu ketemu mereka jadi ada hiburan tersendiri.
Selama 5 minggu disana setiap weekend kita pasti habiskan waktu dengan 3 anak ini dan dengan orangtua mereka. Hari Minggu pertama di Jayapura kita habiskan dengan Alfa, dia ajak kita jalan-jalan ke Sky Land, ke Saga Mal, ke Wihara di Sky Land, minum kelapa dan menikmati pemandangan dari atas Sky Land yang sangat-sangat indah, minggu ke-2 kita nongkrong di Prima Garden, minggu ke-3 jemput anak-anak di Waena lalu makan Pizza di Sarpino dan ke taman hiburan PTC hehehehe…yang buat jantung kita deg-degan, minggu ke-4 jalan-jalan ke Jayapura City, Pantai Base G, Pantai Hamadi, ke Tugu Mac Arthur di Sentani, minggu ke-5 jalan-jalan ke perbatasan PNG, ke Pantai Haltekam (thanks to Ko Herman juga)….semuanya pada akhirnya jadi kenangan yang menyenangkan….
Selain memiliki Toko Buku Rohani mereka juga memiliki café yang makanannya sangat, sangat enak karena Om dan Tante memang pintar masak. Kita sangat sering diundang makan di rumah mereka (hehehehe…kalau makan di sana ada perbaikan gizi), ketika kita kangen dengan nasi campur dan daging babi, Tante khusus buatkan untuk kita…senangnya….Papeda dari restoran mereka sangat enak!!!!!Tante suka menerima pesanan kue, dia juga punya toko kue, kalau ada anggota keluarga yang ulangtahun Tante selalu membuat sendiri kue ulangtahunnya dan enak loh!!!!
Saya dan sahabat banyak belajar dari Om dan Tante, mereka keluarga yang sangat dekat dengan Tuhan, Om dan Tante memiliki beberapa misi berkaitan dengan anak-anak muda Papua, semoga semua yang mereka cita-citakan dapat tercapai. Seminggu sekali di rumah makan mereka di Entrop diadakan seminar untuk anak-anak muda tentang pacaran yang sehat, hubungan pria dan wanita, saya dan Ta pernah ikut sekali dan acaranya menyenangkan. Saya banyak tersentil dengan beberapa hal yang Tante bicarakan ke kita, saya dapat petik beberapa pelajaran berharga. Tante, Om dan anak-anak selalu mendoakan kami dan mengirimkan SMS yang membuat kami selalu ingat akan Tuhan.
Dua hari menjelang pulang saya sempat sakit karena masuk angin biasa, tapi perhatian Tante begitu besar untuk saya dan Des, mereka mendoakan juga supaya cepat sembuh, Tante selalu tanya kondisi saya. Hal yang paling ditakuti kalau kita jauh dari orang terdekat kita adalah sakit tapi dengan adanya Tante saya jadi engga terlalu khawatir. Besoknya waktu datang ke rumah Tante, Tante siapkan ayam kampung rebus katanya biar bervitamin makannya…saya sangat-sangat menghargai semuanya….Des juga baik banget da jagain dan da kerokin juga….
Perpisahan terberat ketika harus meninggalkan Jayapura adalah perpisahan dengan keluarga ini karena kita sudah sangat dekat dengan Om, Tante dan anak-anak. Kita juga terharu dengan kebaikan yang mereka berikan untuk kita.
Kita juga diundang menginap waktu hari Sabtu terakhir sebelum saya dan Des pulang Jakarta, ke gereja bareng dengan mereka sekeluarga (Des memberanikan bawa mobil karena kaki om sedang patah), beraktivitas sampai malam di rumah mereka sangat menyenangkan....
Dari awal hubungan yang terbentuk dengan keluarga ini memang bukan untuk urusan pekerjaan tapi memang murni persahabatan. Seperti tante bilang tidak ada yang kebetulan dari pertemuan kami dengan mereka, semua memang sudah direncanakan dengan indah oleh Tuhan...
Terima kasih untuk semua yang kalian sudah lakukan untuk kami...kami tunggu kedatangannya di Jakarta ya...
We Love You All...
17 July 2008
Memories From Jayapura (Our Home)
Hotel yang kita tinggali bukanlah hotel keren tapi yang penting buat kita hotel itu bersih dan nyaman untuk kita istirahat karena kita pergi pagi pulang sore jadi emang bener-bener buat tidur. Kamar pertama yang kita dapat benar-benar engga nyaman (kita ga bisa milih karena semua kamar yang standar dan deluxe sedang penuh) jadi mau ga mau kita harus terima kondisi kamarnya, yang bikin ga nyaman adalah kamar mandinya yang ga terawat dan kotor hehehehe….ampe kita ada rasa jijik untuk mandi. Untung keesokan harinya kita bisa pindah kamar yang jauuuuhhhhh lebih bagus, bersih dan nyaman. Setiap ada yang tanya kita inap dimana orang-orang terheran-heran karena ternyata image hotel yang kita huni itu kurang bagus, awalnya kita cuek karena toh kita engga macam-macam tapi lama-lama jadi risih juga dan capek untuk menjelaskan kenapa kita bisa sampai menginap di hotel itu hehehe…selama tinggal di hotel itu kita engga berani pulang malam, jam 6 sore kita udah sampai di kamar kalau udah sampai kamar udah engga berani keluar-keluar lagi karena engga berasa nyaman.
Hari Minggu tepatnya tanggal 8 Juni kita pindah ke rumah kos di BTN Kotaraja, di sini rumah macam ini disebut bedeng, jadi kita dapat satu rumah kecil yang di dalamnya ada kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu mungil, dapur mungil hehehe….tapi rumah ini bener-bener kosong jadi kita harus beli perlengkapan sendiri. Perlengkapan yang pertama kita beli adalah kasur (penting karena kita engga mau tidur di lantai hehehe…), ember, gayung, tikar dan baygon hehehehe. Pulang dengan senang karena merasa semua perlengkapan sudah siap. Saatnya mempersiapkan makan malam, makan malam favorit kita selama di sana adalah Indomie karena paling praktis dan murah hehehehe…dari Jakarta kita udah bawa panci listrik jadi lebih praktis tapi begitu panci listrik dicolok tiba-tiba gelap gulita!!!!!selidik punya selidik ternyata daya listrik engga cukup kuat hehehe….jadinya kita gagal makan indomie malam itu mana perut udah lapar dan belum makan sama sekali untung ibu kos baik beliau menghibahkan ikan goreng hasil pancingan suaminya untuk kita…senangnya hehehehe…..kalau panci listrik aja engga bisa dipake, kita jadi mikir gimana dengan hair dryer kita ya (sibuk liat voltage hair dryer hehehehe), jadinya sejak hari itu rambut kita engga pernah tersentuh hair dryer karena engga berani coba takut listriknya mati lagi dan itu berarti kita buat kehebohan lagi karena listrik rumah kita jadi satu dengan listrik rumah sebelah hehehe…

Keesokan harinya kita hunting kipas angin, kompor minyak tanah, kuali (dengan harapan bisa makan telur ceplok karena udah sedikit bosan dengan Indomie hehehe…) dan beli kaca juga karena selama 2 hari kita tidak bisa ngaca hehehe..bisa ditebak kan penampilan kita rambut engga di hair dryer, dandan mengandalan kotak kartu nama yang kacanya sangat buram hehehehe…..
Jadilah hari itu perlengkapan rumah tangga kita lengkap!!!!!
Kalau pulang kerja udah capek banget begitu liat ruang tamu kecil kita rasanya sangat…sangat..senang hehehe… Di ruangan tamu mungil ini kalau malam kita pulang kita ngumpul untuk makan malam, ngurusin kerjaan, beres-beres dokumen. Kalau pagi ruang tamu ini berubah fungsi menjadi tempat kita dandan, keringin rambut di dekat kipas angin, tempat saya dan Ta ngopi dan Des sarapan Indomie. Buat kita ruang tamu ini sangat-sangat nyaman walaupun sempit kalau bertiga udah ngumpul di sana mesti pintar-pintar atur posisi hehehehe…ngaca pun harus gantian biar bisa dandan dengan nyaman hehehehe…Kipas angin kalau pagi ada di ruang ini selain berfungsi supaya tidak panas dan juga pengganti hair dryer hehehe….

Ini Ruang Tidur kita, tempat kita taruh semua pakaian-pakaian kita, boneka hadiah dari our three little angels. Kalau tidur kasurnya hanya dialasi kain bali, bantalnya adalah boneka hehehehe…(yang buat saraf kejepit Des makin parah!!!) dan kalau saya yang penting harus ada kipas angin mungil kita hehehehe..kalau engga tidur engga nyenyak, kita jarang beraktivitas di sini jadi hanya memang untuk tidur, cerita-cerita dan ngobrol sebelum tidur plus ketawa-tawa engga penting kita hehehehe….di ruangan ini yang paling cepat tidur adalah Ta terkadang dia bilang dia engga bisa tidur sebenarnya itu engga pernah terjadi dalam kamus hidup dia, kata-kata yang benar adalah dia belum bisa tidur karena 5 menit setelah dia bilang dia ga bisa tidur dia akan tidur, kalau saya terkadang memang tidur lebih cepat dari Ta dan Des tapi saya engga pernah bilang saya engga bisa tidur hehehehehe…(ampun Ta!!!!!hehehehehe….) dan yang paling cepat bangun adalah Des….
Ini Dapur Mungil kita, tempat kita masak Indomie, masak air untuk minum kopi, untuk goreng telur (belakangan kita engga pernah masak telur lagi karena perjuangan bersih kualinya yang lengket engga sebanding hehehehe….ya kan Ta).
Ini Kamar Mandi kita, kamar mandinya besar ya….tapi memang engga ada fasilitas air panas hehehehe… tapi ini udah cukup buat kita karena balik lagi yang penting bersih…salah satu sahabat kita selalu takut dengan kamar mandi ini karena ada bagian atas yang bolong jadi dia berasa kalau sedang mandi ada yang liat dia hehehe….
Ini halaman rumah kita…luas kan... total di sini ada 10 rumah dan kita rumah ke -1 loh, kalau malam ada pagar yang ditutup jadi kita berasa aman-aman aja, engga terlalu kenal dengan tetangga yang rumah-nya udah jauh hanya kenal dengan 2 rumah yang dekat kita itu pun Bapak yang kenalin kita ke rumah ini dan Ibu kos, kalau pagi alarm kita suara ayam hehehehe…..
Ini Jalanan menuju rumah kita…kita harus lewati rumah-rumah penduduk dan kandang ayam ini hehehehe….tiap hari jalanan ini kita lewati sambil ngobrol n ketawa-tawa…
Kangen dengan semua aktivitas di “rumah pink”, di sana kita bertiga lalui banyak hal, tempat kita ketawa-tawa sampai sakit perut karena khayalan engga penting kita tentang “beberapa orang” hehehehe…tempat kita nangis karena beberapa hal, tempat kita istirahat dengan nyamannya ketika kita udah lelah kerja, tempat kita bercanda dan saling cela biar engga stress hadapi hari-hari yang berat hehehehe….karena memang kita engga menemukan hiburan di sini di rumah kita ga ada TV, koran juga engga ada, jadi tiap hari bertemu dengan Ta Cuma ngobrol ngalor ngidur, pas Des datang suasana jadi lebih hidup dengan keseruannya dia hehehe…..

Pada akhirnya semua yang terjadi di rumah mungil ini INDAH!!!!!
11 July 2008
I'm Back!!!!
Finally I'm back!!!!!...
Ada rasa seneng kembali lagi ke rumah karena udah kangen banget dengan ortu, adik2 dan sahabat-sahabat tapi ada rasa sedih juga karena ninggalin Jayapura karena ada banyak hal yang udah dialami di sana...ada tawa, ada tangis, ada semuanya di sana.....
Cerita tentang Jayapura dan apa yang kita alami menyusul ya..yang penting laporan dulu kalau yang punya "rumah" udah pulang hehehehe....
31 May 2008
Akhir Mei
Berbanding terbalik dengan peristiwa sedih tadi ada kabar gembira, sakit yang diderita seorang Cici menunjukkan perkembangan yang baik, ada beberapa sel kanker yang menghilang dan lainnya mengecil. PUJI TUHAN!!!!Semoga perkembangan selanjutnya juga semakin baik dan baik…..
Berkaitan dengan keluarga saya pun, ada banyak hal yang sangat sangat saya syukuri…Rasanya Tuhan sudah sangat baik untuk saya dan keluarga saya…Thanks God...
Tanggal 15 Mei seharusnya berangkat ke luar kota berkaitan dengan pekerjaan, tapi akhirnya diundur karena orangtua sahabat yang lain lagi-lagi ada yang sakit dan sampai hari ini masih menjalani perawatan. Sempat bersyukur kita tidak jadi berangkat karena di hari ini karena tenyata kita memang harus ada untuk seorang sahabat yang orangtuanya meninggal walaupun apa yang kita lakukan tidak banyak. Sebagai anak, sahabat saya yang lain juga bisa nemenin orangtuanya menjalani perawatan. Des cepat nyusul kita ya!!!!!!
Sebelum akhirnya memutuskan berangkat ada banyak kendala juga sampai akhirnya kita putuskan untuk pending tapi akhirnya saya dan Ta memutuskan berangkat tanggal 1 Juni ini dengan beberapa pertimbangan yang sudah kita pikirkan dengan matang. Semoga perjalanan kali ini berbuah hasil hehehehe…karena biayanya sangat besar, waktu dan resiko yang juga besar…
Kita percaya Tuhan pasti memberikan yang terbaik dan kita percaya mulai dari sini pun Tuhan sudah membukakan beberapa jalan untuk kita di sana nanti..Ta dapat beberapa referensi, saya dapat nasabah dari pameran yang ternyata suaminya dari sana, bahkan suster seorang sahabat adiknya ada di sana, Ta juga ketemu beberapa orang baik yang memberikan beberapa tips dan kenalan mereka…Thanks God……Saya percaya itu semua adalah bentuk pertolongan yang Tuhan berikan untuk kita karena ada banyak kekhawatiran yang kita pikirkan sebelum berangkat …Bahkan di sini pun saya banyak dibantu seorang sahabat yang saya titipin beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan..Thank You banget buat promosi dan bantuannya ya…
Dengan banyak hal tidak mudah yang mesti saya lalui di pekerjaan ini, saya harap ini merupakan tempaan buat saya untuk terus bertahan karena perjuangan untuk mencapai satu posisi yang saya inginkan di sini tidaklah mudah.
Teman-teman ampe ketemu lagi bulan depan ya nanti berbagi ceritanya di sini lagi…doakan kita ya…..
22 May 2008
Medan Trip (The End...)
Duduk di situ seorang turis juga, dia bener-bener menikmati pemandangannya sedangkan kita mata liat pemandangan tapi mulut sibuk ngomong hehehe…duduk-duduk di sini sambil nunggu sunrise. Puas nikmati dan foto-foto pemandangan kita siap-siap untuk check out karena kita harus lanjut lagi perjalanan ke “Lake on the mountain”, “Air 7 rasa”, “Hot Spring ” hehehe...nama-nama yang kita dapat dari tour guide semalam.
Tujuan pertama kita adalah “Lake on the mountain” dari nama dan cerita tour guide dalam bayangan kita tempat ini indah banget. Mampir makan siang di restoran local..karena beda selera makanan yang bisa diterima lidah dengan enak adalah ikan bumbu kuning, sop bakut. Ada satu yang unik makanan yang dibuat dari susu kerbau..rasanya hambar tapi engga ada rasa susunya sama sekali. Selesai makan lanjut lagi perjalanan ke “Lake…”. Perjalanannya sangat, sangat jauh dan melewati jalannya yang sangat sempit yang cuma bisa dilalui satu mobil itupun tidak beraspal plus berkelok-kelok tapi pemandangan di kanan kiri jalan benar-benar indah, kita bahkan liat beberapa air terjun dari kejauhan. Jadi rute kita sekarang adalah mengelilingi Danau Toba melalui darat dari ujung ke ujung. Pemandangannya buat kita takjub, benar-benar kuasa Tuhan itu luar biasa..sayang kita engga bawa handycam, kalau bisa divideo-in pasti bagus banget!!!!. Sempet tanya-tanya juga karena Pak Tarigan belum pernah ke lokasi yang mau kita datangin. Akhirnya sampai juga kita lokasi dan ternyata sangat..sangat..jauh dari bayangan kita hehehehe...merasa dikibulin sama tour leadernya...kita ampe ketawa-tawa setelah liat lokasinya seperti itu tapi tetap indah walalupun berbeda dengan bayangan kita (karena berdasarkan cerita tour leader kita bayanginya terlalu indah hehehe...) karena menurut tour leadernya tempat seperi ini hanya ada di Canada dan Samosir. Tapi tidak menyesal karena sepanjang perjalanan pergi dan pulang kita disuguhi pemandangan yang sangat indah!!!!.
Ada kejadian unik pas kita pulang, ada nenek-nenek yang berpakaian rapi yang mau ikut menumpang mobil kita karena dia mau menghadiri pesta. Kebetulan waktu itu kita turun untuk foto-foto karena pemandangannya bagus. Pas kita mau naik ke mobil nenek itu manggil-manggil kita, karena engga ngerti dia teriak apa kita malah ketakutan hehehe...buru-buru naik ke mobil, ternyata dia mau menumpang akhirnya nenek itu ikut kita. Walaupun sudah sangat tua tapi nenek itu masih berpakaian rapi, kebayanya berwarna shocking pink loh, rambutnya juga disanggul rapi, bawa tas tangan dan ulos tapi sayang sandalnya ketinggalan karena buru-buru mau ngejar kita biar bisa numpang. Nenek ini engga bisa Bahasa Indonesia. Ternyata jarak dari tempat dia naik ke tempatnys pestanya sangat jauh ..katanya kalau engga ketemu kita dia jalan kaki...ga kebayang!!!!!. Pas turun nenek itu liatin mobil kita terus sampai engga keliatan kata Ta itu akhirnya dia baik, karena kalau kita mengantar tamu pulang kan juga seperti itu kita baru masuk rumah kalau tamu kita udah engga keliatan. Nenek itu artinya dia mengantar kita.
Lokasi berikutnya adalah hot spring...di sini kita ketemu turis asing yang juga menginap di Carolina, ada 2 rombongan, rombongan pertama pasangan dan mereka naik motor!!!di sini kita cuma mampir bentar, sayang lokasinya kurang menarik dan kurang terawat. Disekitar sumber air panas banyak terdapat sampah-sampah plastik. Lagi-lagi disini beli mangga, lebih enak lagi rasanya karena baru dipetik dari pohonnya hehehe...puas makan mangga kita lanjut lagi perjalanan ke “Air 7 Rasa“. Perjalanan juga jauh tapi lagi-lagi pemandangannya indah..kita lewati hutan, desa-desa kecil, jalan yang dilalui juga kecil dan berkelok-kelok. Kali ini lebih banyak melewati pemukiman penduduk.
Ada yang unik dengan rumah penduduk di Pulau Samosir ini, umumnya makam keluarga diletakkan di dekat rumah bahkan di sebelah rumah. Terkadang kondisinya lebih bagus kuburan dibandingkan dengan rumah tinggal mereka, karena menurut Pak Tarigan memang seperti itu adat istiadat-nya. Kuburan itu disiapkan untuk beberapa anggota keluarga, jadi bentuk makamnya menyerupai rumah yang disekat-sekat. Jadi dalam satu bangunan kuburan biasa ada beberapa lubang, lubang yang sudah ditutup dengan semen berarti sudah ditempati. Tidak ada bau karena memang bangunannya terbuat dari semen, begitu peti masuk lubang juga akan ditutup dengan semen. Jadi mereka tidak dimakamkan dalam tanah loh tapi di sebuah bangunan yang sangat megah. Semakin mapan keluarga itu maka akan semakin megah dan tinggi kuburan yang dibuat. Kuburan itu mencerminkan status sosial dari suatu keluarga.
Akhirnya kita sampei juga di “Air 7 rasa“ hehehehe...lagi-lagi jauh dari bayangan kita, tempatnya kecil dan digunakan penduduk sekitar untuk mencuci pakaian. Tapi airnya benar-benar ada rasanya, seperti ada rasa asam dan sepat...penduduk sana percaya ada suatu kekuatan yang buat air itu berasa tapi kalau secara ilmu itu mungkin karena campuran zat-zat kimia di dalam tanah..engga tau penjelasan secara teknisnya hehehe....tapi airnya memang berasa.
Selanjutnya perjalanan menuju ke Brastagi melalui Sidikalang. Kalau tadi untuk menuju “ Lake on the mountain“ dari kejauhan kita melihat bukit dengan jalan-jalan yang berkelok-kelok, maka sekarang kita berada di lokasi “Air 7 rasa“ yang berada di bukit yang posisinya bersebrangan dengan lokasi “Lake...“, jadi kita benar-benar mengeliling Pulau Samosir seharian. Tapi engga berasa capek mungkin karena liat pemandangan-pemandangan yang indah. Di beberapa bukit kita liat pemandangannya buat kita miris karena bukitnya gundul engga ada pohon lagi yang buat bukit itu hijau, bahkan pulang dari ’’Air 7 rasa’’ kita melihat penambangan batu dari bukit-bukit..sayang banget pemadangan yang begitu indah rusak sama manusia yang serakah.
Pemberhentian kita berikutnya adalah suatu bangunan 3 tingkat yang khusus dibangun untuk melihat pemandangan Danau Toba. Lokasi ini sangat bagus untuk foto-foto semakin tinggi kita naik semakin bagus view pemandangan yang kita dapat, langitnya benar-benar masih biru, udaranya dingin...tapi lagi-lagi kondisi bangunannya juga tidak terawat, bahkan ada tangga yang pegangannya sudah goyah..padahal ada tiket masuk yang harus kita bayar walaupun hanya Rp. 1.000. Rasanya wisatawan engga akan protes kalau harus bayar lebih mahal tapi dananya benar-benar digunakan untuk pemeliharaan bangunan dan lokasi sekitarnya.
Pokoknya Danau Toba patut dikunjungi !!!!engga akan rugi dech...pemadangan yang kita lihat buat kita semakin sadar betapa kayanya negara ini. Tapi kurangnya promosi dan perawatan kekayaan itu tidak menghasilkan sesuatu yang maksimal baik untuk masyarakat sekitar dan negara. Kalau berkunjung ke Parapat Danau Toba jangan lupa ke ’’ Lake on the mountain’’ dan ‘’ Air 7 rasa ‘’ melalui jalur darat karena pemandangan sepanjang perjalanan menuju ke dua lokasi tersebut sangat sangat indah!!!!
Kita selanjutnya ada di Brastagi dan Medan...tapi sampai di sini aja ceritanya ya hehehe...da kepanjangan..Pokoknya perjalanan kali ini sangat menyenangkan..banyak kejutan-kejutan dan hal yang engga terduga tapi kita semua bisa nikmati semuanya :)

