22 June 2009
Penjelasan..
Life is Beautiful...
Hidup memang indah tapi hidup ini harus diperjuangkan n kita ngeliat hidup ini engga sepotong-sepotong tapi secara keseluruhan..engga ada yang nama hitam atau putih tapi hitam DAN putih, bukan senang atau sedih tapi senang DAN sedih. Akhirnya semua yang gua alami apapun itu, sesuatu yang awalnya buat gua nangis-nangis, sesuatu yang gua perjuangkan dengan berton-ton keringat akan buat gua mencapai sesuatu yang lebih baik entah jadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bijaksana or entah apa tapi gua percaya akan buat gua jadi seseorang yang lebih baik..Akhirnya gua bisa bilang Hidup ini Indah dengan nyaman….
Tentang "Check Out"
Bagitu gua selesai teleponan sama Ibu tadi, gua jadi mikir kalau gua nanti harus check out dari dunia ini, apa nomor gua akan tetep diaktifin sama suami or keluarga gua (seperti nomor Bapak tadi, walaupun gua engga tahu ya ada alasan apa nomor itu tetep aktif) atau engga diaktifin lagi ya..Kalau gua istri dari orang itu apa gua akan tetep biarin nomor suami gua tetep aktif??entahlah gua juga engga tau..tapi saat ini jawaban yang buat gua nyaman adalah nomor itu engga akan gua aktifin lagi..tapi pilihan orang beda-beda n balik lagi setiap orang pasti punya alasanya masing-masing…
Kenangan baik buat gua penting banget..itu kenapa gua selalu berusaha berbuat baik ke semua (walaupun buat orang lain penilaiannya beda or belum tentu mereka anggpa baik ya...), berusaha engga mempermasalahkan hal-hal kecil yang engga penting, berusaha selalu tulus, berusaha selalu sabar dan berusaha melupakan hal engga baik n engga enak dari seseorang, karena gua mau punya banyak kenangan baik dengan orang-orang, karena gua tau kalau gua buat kenangan engga baik dengan seseorang gua akan sangat menyesal waktu gua harus check out or seseorang itu yang harus check out karena kita engga pernah tahu kapan waktu itu datang. Pak Leader gua pernah bilang kalau kita melakukan sesuatu sekarang itu namanya Kesadaran tapi kalau kita baru melakukan setelah ada kejadian itu namanya Penyesalan..gua selalu berusaha memilih untuk engga nyesel walaupun kadang ada yang engga bisa gua hindari.
Tahun Lalu
Alfa kalau telepon suka tanya kapan gua n Ta ke Jayapura lagi n dia selalu berpromosi kalau Jayapura udah berubah banget dibandingi dengan gua orang pas ke sana hehehe…kata dia udah ada Happy Puppy, udah ada Excelso (akhirnya bakalan engga bingung lagi ya Ta cari tempat ngopi enak kalau hari Minggu), Pizza Hut hehehe…kangen dengan adik-adik..kangen dengan PAPEDA hehehe…Tapi gua engga pernah bisa janji kapan pastinya mau ke sana lagi tapi dalam hati pasti gua akan ke sana lagi entah cuma buat ketemu nasabah lama or untuk ketemu dengan adik-adik n keluarga Adonai yang baik hati..sempet bilang ke Ta kalau kita harus balik ke sana karena kalau engga kasian sama nasabah kita yang engga pernah ditengok sama agennya hehehe…kalau ditanya sama Alfa gua cuma bisa bilang pasti akan balik lagi tapi kakak harus nabung dulu sekarang, jadi kalau sekarang dia tanya “Kakak kira-kira kapan tabungannya cukup buat datang ke Jayapura?”hehehehe…dasar anak kecil!!!
Pengalaman ke Jayapura adalah pengalaman yang engga terlupa buat gua, pengalaman yang buat hidup gua lebih “kaya” walaupun bukan dalam hal materi. Engga nyangka aja di umur gua yang ke-29 gua sempet mampir ke Jayapura..orang suka bilang “hah???!!ke Papua???”gua suka jawab asal aja hehehe..iya modal nekat aja ke sana. Padahal mana ada modal nekat semua pasti diperhitungin, nekatnya mungkin karena di sana kita engga ada kenalan sama sekali. Sekali lagi berharap mudah-mudahan tahun depan bisa balik lagi ke Papua mungkin engga cuma ke Jayapura tapi ke kota-kota lainnya juga..mau ke Raja Ampat juga tapi buat traveling aja bukan kerja hehehehe….
TARA
TARA (The Amazing Race Asia)..sekarang gua lagi suka banget ama acara ini, dulu waktu Sis belum berangkat sering bahas acara ini ama Sis tapi bukan yang Amazing Race Asia, sekarang gua lagi ojok-ojok Ta biar dia segera urus TV Cable dia hehe..biar kalau gua kalau mau cerita ada temennya hehehe…siapa tau dia juga jadi semangat buat jadi pesertanya juga jadi gua bisa ajak dia daftar hahahaha…(gua mimpi lagi).
Buat gua acaranya seru aja..bisa menjelajah berbagai tempat bagus di dunia ini tapi sambil lomba gitu n kalau bisa menang kita bisa dapet hadiah yang engga kecil jumlahnya. Kalau liat acaranya yang pasti engga gampang, perlu fisik yang kuat, pinter juga iya, punya strategi, kompak dengan pasangan, menguji kesabaran juga karena kadang ada peserta yang marah sama pasangan lombanya, perlu hilangin ego masing-masing n banyak lagi. Sayang banget TARA musim ke-3 ini engga ada peserta asal Indonesia, kalau yang sebelumnya ada model Kinaryosih sama pacaranya, musim pertama ada kakak adik yang ikut.
Hehehe..pengen banget bisa jadi pesertanya tapi sebelum gua ikut (mengkhayal kalau gua terpilih jadi peserta hehehe..) gua kudu belajar renang dulu, belajar nyetir dulu, belajar baca peta dulu (ini yang penting nich karena gua oon banget kalau yang namanya baca peta bisa kebalik-balik ama gua hehehehe…). Pas gua bilang adik gua mau ikut dia ketawain gua katanya ga mungkin gua bisa kepilih karena gua sebenernya orangnya penakut hehehe..belum tau dia kalau encinya preman hehehe…
Gua suka petualangan karena berasa hidup ini cuma sekali jadi yang seru-seru harus bisa dirasain mungkin itu juga yang buat gua suka banget traveling hehehe..Ta juga suka ngetawain gua kalau gua bilang suatu hari nanti gua mau ngerasain yang namanya backpacking dia bilang gua engga akan mungkin bisa backpacking hehehe..Tunggu aja tanggal mainnya ya Ta..Kadang suka mikir nanti kalau dapet pasangan hidup yang engga suka traveling n petualang gitu gimana ya???hiks..hiks..menyeramkan..kalau dia suka traveling masih mending dech anak kalau udah gedean kan bisa diajak juga, yang parah adalah kalau dia engga suka..gimana tuch ya???serem mikirnya hehehehe..jadi engga usah dipikirin dulu dech….(ketok-ketok meja n kepala hehehe…)
Kesalahan
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Thank you ya untuk Yeremia 29:11-nya..akhirnya gua sadar n tau kalau ini bakalan jadi jadi ayat pertama dan terakhir..)
“Engga pernah bermaksud apapun, yang ada mau liat seseorang itu jadi lebih baik dan baik entah buat dia sendiri atau buat keluarganya.” (Sorry…dimanapun dan tempat apapun tetaplah bermimpi untuk yang lebih baik)
11 June 2009
Cara Tuhan
Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.
Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.
Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.
Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.
Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.
Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?
Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.
Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.
Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.
Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.
Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.
Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.
Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.
Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!
Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.
Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.
Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.
Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar.