16 March 2008

Sapta, Anggun..Rest In Peace Ya....

Baru saja saya membaca Andy’s Corner di Website Kick Andy..dua orang adik yang saya kunjung sudah pergi menghadap pencipta. Wajah mereka langsung terbayang, keceriaan mereka, bahasa mereka. Terakhir saya bertemu Sapta sebulan yang lalu ketika saya terakhir kesana…Sapta masih sangat ceria (dalam hati saya berkata anak ini akan baik-baik saja), orangtuanya pun masih ceria bercanda dengan orangtua lain.

Tulisan Bung Andy sangat mengejutkan karena buat saya Sapta seperti tidak menderita sakit apapun apalagi kanker otak. Saya masih terbayang ketika datang kesana terakhir kali Sapta sedang asyik main PS, beberapa dari kakak yang ada di sana bercanda bahwa dia sekarang menjadi selebritis karena muncul di acara Kick Andy. Dia juga jadi bahan bercandaan orangtua lain karena buang angin di kamar temannya lalu kaburJ, waktu itu dia sedang menunggu suster datang untuk minum obat sambil nunggu dia minta jajan nasi kuning di lantai dua yang katanya enak..tapi itu sebulan yang lalu sekarang Sapta sudah pergi. Rest in Peace ya Sapta…

Sebenarnya ada satu anak lagi yang sudah pergi yaitu Anggun, waktu terakhir kesana saya tidak bertemu dengannya, pertama kali ketemu kita sempat main bareng, sempat janji kalau saya akan datang lagi karena saya mau minta diajarin main Bingo tapi terakhir datang saya malah engga ketemu Anggun karena dia masih tidur dan ternyata dia juga sudah pergi…Rest in Peace Anggun…Maaf engga nepati janji untuk datang buat main Bingo bareng…really..really sorry…..

Kanker sangat kejam bukan? Dia bisa datang kesemua orang tidak perduli umur (anak kecil yang bahkan yang baru lahir pun bisa didatangi!!!!), status sosial, jenis kelamin, pendidikan kalau dia mau tinggal maka dia akan tinggal sesuka hati dia, dia bisa membuat orang yang didatangi-nya sangat menderita dan akhirnya menyerah walaupun sebelum menyerah semua usaha terbaik mereka lakukan. Kejam!!!!!

Seseorang yang sangat dekat dengan saya juga sedang berjuang melawan kanker …hanya doa yang bisa saya lakukan …mohon doanya juga dari yang membaca…..

Bung Andy dan Team Kick Andy...Terima Kasih sudah selalu berusaha menjadi berkat untuk orang lain..saya yakin mereka sekarang sangat bahagia karena Kick Andy membawa kenangan yang tidak akan terlupa untuk Sapta, Anggun dan anak-anak lain yang saat ini sedang berjuang melawan kanker....Ada kenangan yang membuat mereka bahagia yang mereka bawa…..



Berikut adalah tulisan dari Bung Andy yang saya ambil dari www.kickandy.com...

Senyum Sesaat


“Anggun meninggal”. Pesan singkat melalui SMS itu saya terima dari tim Kick Andy. Hati rasanya terbetot. Sakit dan perih. Tidak percaya tetapi nyata. Hampir semua tim Kick Andy tidak percaya Anggun meninggal. Pada saat terakhir berjumpa, gadis berusia 15 tahun ini tampak sehat dan ceria.


Perkenalan kami dengan Anggun dimulai ketika tim Kick Andy melakukan “riset” ke Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Saat itu kami hendak mengangkat kisah anak-anak yang terancam masa depannya akibat penyakit kanker. Dari kunjungan ke Dharmais itu, kami bertemu dengan Anggun dengan kisahnya yang mengharu-biru.


Anggun merupakan bungsu dari empat bersaudara ini lahir di keluarga yang berprofesi sebagai guru di daerah Lubuk Linggau, Palembang. Sejak Agustus 2007, Anggun sudah divonis kena kanker tulang di persendian lulut kaki kirinya. Dengan segala upaya dan kemampuan keuangan yang pas-pasan, remaja yang baru duduk di kelas 3 SMP ini pun lalu dibawa ke Jakarta untuk berobat.


Dengan kondisi yang ada dokter lalu memutuskan untuk mengamputasi kaki kiri Anggun sebatas lutut. Mendengar keputusan itu seluruh keluarga terduduk lemas. Terutama Anggun, tentu. Terbayang masa depan yang berat yang harus dihadapi remaja perempuan yang sedang menanjak dewasa ini. Tak terbayang bagaimana dia dapat menghadapi hidup, sebagai wanita, dengan hanya satu satu setengah kaki.


“Awalnya Anggun menolak diamputasi. Dia malu hanya punya satu kaki,” ujar Ningsih, ibu Anggun. Sampai pada suatu titik, antara pilihan hidup atau mati, Anggun menyerah. Dia pasrah. “Dokter bilang nanti saya bisa pakai kaki palsu,” ujar Anggun.


Pada saat yang sama, kami bertemu dengan Tri Sapta, seorang anak lelaki yang sangat aktif. Selain tampak cerdas, Sapta segera terlihat sebagai “bintang” di antara anak-anak penyandang kanker yang waktu itu sedang berobat di RS Dharmais.


Tampil selalu ceria, sepintas tidak ada yang menyangka Sapta menderita kanker otak. Kanker yang mendekam di dalam rongga kepalanya itu seakan tidak dirasakannya. Penampilannya sehari-hari ceria dan rajin melontarkan celetukan-celetukan yang membuat teman-teman sebangsalnya terhibur.


Maka, ketika pada saat kami berkunjung ke Dharmais, membawa serta Demian, pesulap yang sedang mennajak namanya, Sapta adalah korban empuk Demian. Jika Anda menyaksikan episode Masih Ada Hari Esok, maka Anda akan melihat seorang bocah yang dipermainkan oleh Demian.


Anggun dan Sapta menjadi pusat perhatian saat Kick Andy pada episode tersebut. Di situ dikisahkan betapa pergolakan bathin Anggun dan keluarganya akibat kanker yang menyerang tulang kakinya. Juga betapa Anggun sangat ingin untuk menjadi guru agama kelak. “Sebab dengan menjadi guru agama, saya tidak harus berdiri di depan murid-murid,” ujar Anggun, merujuk pada kakinya yang diamputasi.


Dari ibunya dan para perawat kami mendapat informasi Anggun sangat menginginkan punya kursi roda sendiri. Selain – tentu – kaki palsu. Maka, ketika seorang teman menawarkan bantuan, saya menyebut kursi roda. Pada hari yang ditentukan untuk rekaman, kursi roda itu kami berikan kepada Anggun, yang hari itu tampak bahagia. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar dari Lala, produser episode itu, bahwa ada donatur yang tergerak untuk memberi kaki palsu buat Anggun. Kami semua berbahagia mendengarnya.


Sementara Sapta, yang selama ini sudah bermain musik dan memiliki band anak-anak di desanya, di Lampung, juga mendapat kejutan. Pada saat saya memintanya untuk mendendangkan sebuah lagu untuk penonton Kick Andy, Sapta memilih lagu “Aku, Kau dan Dia”, milik Kangen Band. Lagu itu dipilihnya karena selama ini Sapta memang mengaku sangat mengagumi Kangen band, kelompok musik yang juga berasal dari Lampung. Apa yang terjadi ketika Sapta sedang mendendangkan lagu itu? Dari samping panggung muncul Dodhi, penyanyi Kangen band, diikuti personil band yang hari itu memang kami datangkan sebagai kejutan indah bagi Sapta. Kami semua, tim Kick Andy, hari itu sungguh puas dan bahagia. Sebab selain Anggun dan Sapta, kami juga memberi kejutan kepada Abiyu, yang terkena kanker mata, yang selama ini “gila bola”. Produsen Adidas yang kami hubungi dengan senang hati memberikan hadiah kejutan sepatu bola lengkap dengan seragam kesebelasan Jerman untuk Abiyu.


Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama. Sampai kemudian datang kabar dari orangtua Anggun bahwa anak tercinta mereka telah berpulang dipanggil Sang Khalik. Tak percaya tetapi nyata. Sebagian dari tim Kick Andy tak kuasa menahan air mata.


Belum usai duka menggelayut di hati kami, datang berita sedih lainnya: Sapta juga sudah pergi mendahului kami kembali pada Sang Pencipta. Ah, tak terlukis duka di hati kami. Terbayang wajah lugu yang ceria. Terngiang-ngiang ucapan Sapta bahwa jika besar nanti dia ingin membentuk sebuah grup band yang hebat. Grup band yang lebih terkenal dari Kangen band pujaannya.


Tapi, manusia berkehendak, Tuhan juga yang menentukan. Mereka telah pergi selama-lamanya. Kalaupun ada yang membuat kepedihan kami berkurang, keluarga Anggun dan Sapta masih menghubungi kami dan mengucapkan terimakasih atas perhatian tim Kick Andy terhadap anak-anak mereka. Setidaknya, sebelum anak-anak mereka dipanggil Tuhan Yang Maha Esa untuk selama-lamanya, mereka masih sempat melihat seulas senyum yang menghias bibir Anggun dan Sapta. Walau hanya senyum sesaat. Senyum yang dapat mereka jadikan kenangan, sebelum maut menjemput.



No comments: